Rabu, 14 September 2016

Wacana Pembangunan Kepri : Kondisi Geografis

Cris Topan
Provinsi Kepulauan Riau, Negeri Melayu dengan luas wilayah 251.810.71 km2, yang terdiri dari sembilan puluh enam persen lautan dan hanya empat persen daratan. Memiliki pulau-pulau kecil sebanyak dua ribu empat ratus delapan buah pulau, tentu kondisi geografis kepulauan riau ini memiliki potensi yang cukup besar untuk dapat dikembangkan bagi kesejahteraan masyarakatnya. Kekayaan sumber daya alam maritim di Provinsi Kepulauan Riau, tentu memerlukan pengelolaan yang spesifik, terarah, terukur, dan berkelanjutan.

Jika kita membahas persoalan maritim Kepulauan Riau, tentu sebagian besar dari kita akan berpikir tentang pulau-pulau yang terpisahkan oleh lautan, pelabuhan, keterbatasan alat transportasi laut, tentang nelayan, tentang perahu nelayan dan alat tangkapnya, tentang industri pengolahan hasil tangkap, produk hasil olahan, tentang pasar penjualan hasil tangkapan nelayan, dan lain sebagainya.

Namun demikian, tidak kalah penting untuk mengingatkan, bahwa kita juga perlu mulai berpikir tentang penguasaan tekhnologi untuk membangun industri maritim yang lebih besar, mulai dari industri hulu hingga ke hilir. Semisal kapal tangkap ikan yang canggih, yang ditunjang dengan penerapan teknologi tinggi. Mungkin suatu ketika nanti akan ada kapal tangkap ikan milik nelayan di Kepulauan Riau yang dapat memonitor sebaran ikan secara langsung, sehingga kerja tangkap ikan dapat dilakukan dengan optimal, cepat, tepat dan efisien.

Demikian pula dengan pengelolaan industri hilir, seperti pabrik pengolahan ikan laut, mungkin suatu hari nanti, akan ada sarden yang diproduksi di Kepulauan Riau. Atau akan ada pabrik pembuat ikan asin, dengan kualitas baik dan dapat bersaing dengan produk lainnya di pasar global. Kita yang hari ini hidup pada masa tekhnologi tinggi, tentu akan merasa aneh, alangkah malu rasanya, jika hari ini kita baru mampu berangan-angan tentang pemanfaatan tekhnologi untuk mengelola hasil laut kita di Kepulauan Riau seperti ini.

Kejahatan yang terjadi di wilayah perairan Kepulauan Riau, semisal pencurian ikan, penyeludupan barang, hingga pengiriman tenaga kerja illegal, perlu diantisipasi dengan aturan hukum yang jelas. Sejauh ini ketidaktahuan warga tentang aturan hukum laut dan hal-hal yang berkaitan dengan itu semua, telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak rakus yang bertindak sewenang-wenang dengan menggunakan jabatan atau bersekongkol melalui kedekatannya dengan pejabat. Harus ada tindakan tegas dan transparan atas semua pelanggaran itu.

Hal ini perlu disikapi secara serius, kebijakan pembangunan daerah di sector maritim yang dirancang oleh pemerintah daerah perlu diselaraskan dengan aturan yang berpihak pada rakyat, sehingga tidak sekedar menjadi bahan pencitraan dan kegiatan seremonial belaka. Kita yang hidup hari ini perlu berpikir kedepan, dengan visi jangka panjang yang cemerlang.

Kondisi geografis : pulau-pulau kecil yang dihubungkan oleh lautan, melihat keterbatasan sebagai peluang masa depan warga Kepulauan Riau.

Senin, 13 Juni 2016

Melirik Potensi Pariwisata di Pulau Penyengat

Minggu (24/4/2016) pagi, cuaca cukup cerah. Semilir angin berhembus dari laut yang sedang pasang. Ombak tak terlalu tinggi, aktivitas penyeberangan dari Tanjungpinang menuju Pulau Penyengat pun terasa nyaman.

Beberapa pekerja serta warga Tanjungpinang dan sekitarnya memanfaatkan waktu libur kerja akhir pekan untuk mengunjungi Pulau Penyengat, sebuah pulau di Kota Tanjungpinang yang kental dengan nilai sejarah dan budaya melayu. Hari itu, selain saya, juga banyak rombongan wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke Pulau Penyengat.

Setiap hari libur, Pulau Penyengat memang ramai dikunjungi wisatawan. Dengan membayar Rp7.000 sekali jalan, kita dapat mencapai Pulau Penyengat dari Tanjungpinang.

Mengendarai sepeda yang saya pinjam dari seorang teman yang tinggal di Pulau Penyengat, saya berkeliling mengikuti rombongan wisatawan. Pengemudi becak motor menjadi pemandu bagi rombongan wisatawan itu, saat tiba di Pulau Penyengat untuk mengelilingi tempat-tempat bersejarah. Jasa Bentor, sebutan khas becak motor Pulau Penyengat tersebut, tarifnya Rp30.000 per jam.

Seolah tak ada kata lelah saat mengelilingi Pulau Penyengat, meski harus dengan mengayun sepeda. Rindang pepohonan menjulur di kiri dan kanan jalan, menawarkan kesejukan bagi siapapun yang ada di sekitarnya.

Puas berkeliling mengunjungi situs sejarah Kerajaan Riau Lingga di Pulau Penyengat, sejenak saya beristirahat di Balai Adat Indra Perkasa. Saya merasa ada yang masih kurang, sesuatu yang awalnya saya bayangkan akan saya jumpai di Pulau Penyengat, ternyata tidak saya temui.

Selain wisata sejarah, semestinya di Pulau Penyengat dapat pula kita temui wisata budaya. Ya, nilai-nilai budaya melayu yang kaya akan falsafah kehidupan, yang semestinya dimanfaatkan oleh warga masyarakat Pulau Penyengat sebagai pilihan destinasi wisata lain, selain tentunya destinasi wisata sejarah bagi wisatawan di pulau ini.

Saya tidak menjumpai aktivitas kegiatan warga masyarakat di Pulau Penyengat yang menggambarkan tradisi dan nilai budaya melayu sebagaimana saya baca dari buku-buku sejarah dan promosi pariwisata Kepulauan Riau. Saya tidak menjumpai aktivitas anak-anak yang bermain gasing, bermain goli atau kelereng, atau anak-anak yang ramai bermain layang-layang.

Saya juga tidak menjumpai aktivitas sanggar seni melayu, yang bisa dikunjungi wisatawan. Di mana pengunjung dapat melihat dan ikut belajar menabuh gendang dan mendendangkan lagu melayu, atau sekadar belajar berpantun.

Saya juga sempat membayangkan akan menjumpai banyak kedai makan yang menjual hidangan khas melayu. Di mana saya dapat menikmati makanannya yang bercita rasa khas, semisal asam pedas ikan sembilang atau menu makanan melayu lainnya. Memang ada pedagang yang membuka kedai makanan di sekitar balai adat, tapi yah sekedar makanan biasa yang bisa juga ditemukan di tempat-tempat lain, seperti mie instan rebus, bakso, atau soto ayam. Lagi-lagi, yah cuma sekedar makanan biasa, tidak menggambarkan khazanah cita rasa melayu yang khas. Satu-satunya kedai makan yang menjual makanan dengan cita rasa khas melayu cuma ada di dekat pelabuhan, tidak jauh dari Masjid Sultan Riau.

Andai saja di Pulau Penyengat banyak kedai makan yang menjual makanan yang bercita rasa melayu, di mana wisatawan yang datang berkunjung juga dapat sekalian belajar meracik bumbu dan memasak di tempat yang sama. Tentu wisatawan yang datang berkunjung ke Pulau Penyengat akan lebih terkesan dengan adanya nilai lain dan manfaat lebih yang dapat dibawa pulang dari Pulau Penyengat.

Kurang tepat rasanya jika tradisi dan khazanah budaya hanya dikembangkan sebatas simbol-simbol berbentuk pakaian adat, lagu, nyanyian, atau gerak tari di acara seremonial tahunan. Untuk meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup warga tempatan dari sektor pariwisata, spirit budaya perlu ditanamkan pada jiwa setiap individu sejak dini. Tradisi budaya itu semestinya tergambar di kehidupan kita sehari-hari, tidak sekadar di acara seremonial yang digelar oleh instansi pemerintah setahun sekali.

Harus ada kelompok masyarakat yang mulai bergerak lebih gigih untuk memanfaatkan potensi pariwisata di bidang budaya di Pulau Penyengat, arahan, dan bimbingan dari instansi pemerintahan yang membidangi sektor pariwisata, dirasa perlu segera untuk digalakkan. Demikian pula dengan kebudayaan generasi pengganti, perlu diajarkan dan ditanamkan nilai-nilai budaya melayu sejak dini di sekolah formal, diberikan materi pelajaran yang terstruktur tentang sejarah dan budaya melayu, serta bagaimana strategi memanfaatkannya sebagai sumber kekuatan ekonomi kerakyatan di tanah melayu yang kita cintai ini.

Minggu, 14 Februari 2016

Tolong Menolong

Mengalami kesulitan adalah risiko yang harus dirasakan saat kita memberanikan diri untuk menolong orang lain, terkadang bukan saja kesulitan fisik, tekanan batin pun harus rela diterima dengan lapang dada. Bahkan tidak jarang, kita pula yang harus memikul penderitaan lebih setelah kita menolong orang lain. Sukur-sukur dapat ucapan terima kasih dan perlakuan baik setelah kita memberikan pertolongan, pada kenyataannya, terkadang justru lebih sering kita mendapatkan sindiran, tatapan sinis dan wajah masam yang harus kita hadapi setiap hari, luar biasa!! Laa hawla wala kuwwata illabillahil'aliiyil adziim. Kuatkan diri kami Ya Rabbi, jagalah hati dan keyakinan kami agar tetap dalam Iman dan Islam. Aamiin 99x

Manusia sebagai makhluk sosial perlu hidup saling tolong menolong, kita sadari itu. Terkadang ada masa kita butuh pertolongan dari orang lain, kemudian ada pula masanya kita harus menolong orang yang membutuhkan pertolongan kita, apalagi jika kita mampu untuk melakukannya.

Menolong dapat kita pahami sebagai upaya yang didasari oleh kesadaran dan rasa tanggungjawab, tidak perlu diminta. Menolong itu adalah perbuatan mulia, tentu saja dalam konteks menolong untuk sebuah kebaikan. Namun demikian, tidak semua orang sanggup melakukannya. Meski tidak dapat disimpulkan bahwa upaya memberikan pertolongan sebagai upaya yang berat, sulit, sukar untuk dilakukan. Tergantung dari mana dan bagai mana cara kita memandangnya, persepsi kita terkadang memang berbeda, tergantung pada kualitas kita sebagai manusia. Justru karena itulah, tidak semua orang sanggup untuk melakukannya.

Hanya orang yang berhati bersih dan ikhlas, yang menyadari bahwa keberadaannya di muka bumi ini dan apa yang dimilikinya hari ini, baik nafas, tenaga, kemampuan berpikir, ilmu pengetahuan, harta maupun jabatan, hanyalah sebagai titipan, sebagai sebuah kesempatan untuk beramal, berbuat baik dan menjalankan tugas dari sang pencipta terhadap sesama makhluk ciptaan yang hidup di muka bumi untuk menjadi bekal yang akan dibawa kelak di akhirat, yang akan sanggup melakukannya.

Apalagi jika kita sudah mengetahui persoalan yang sedang dihadapi dan mampu untuk memberikan pertolongan bagi orang lain yang membutuhkan pertolongan kita, tanpa diminta dan menunggu orang tersebut menengadahkan tangan kepada kita, mestinya kita sigap untuk memberikan pertolongan.

Tanpa kita sadari, terkadang satu persoalan yang kita anggap kecil, masalah sepele yang tidak dapat dihadapi oleh seseorang, justru berdampak besar terhadap diri individu maupun bagi orang banyak di lingkungan sosialnya. Keberadaan kita yang berdiam diri, mengulur-ulur waktu, padahal mampu untuk memberikan solusi segera terhadap masalah yang dihadapi oleh orang lain, tanpa kita sadari justru menjadi bagian besar penyebab problematika sosial di lingkungan kita.

Beberapa tahun terakhir, banyak bermunculan orang berlatar belakang pendidikan, profesi dan kelompok tertentu, yang dengan modal segenggam kata mutiara pemanis lidah menebar janji di mana-mana untuk menarik perhatian, hadir di antara kita, berkata dan berbuat seolah-olah akan menolong kita. Fenomena ini muncul tentu karena adanya sebab, tidak hadir begitu saja. Tidak dapat dipungkiri, ada tujuan memperoleh keuntungan materi terselip di situ.

Tidak cukup berhenti di situ saja, kemudian bermunculan banyak motif dan bentuk berbeda namun dengan tujuan yang sama, dengan meniru cara dan gaya serupa mereka menipu untuk memperoleh keuntungan ekonomi dan kenaikan derajat sosial. Untuk mencapai tujuan itu, tidak sedikit tipu muslihat dilakukan, bahkan tidak menutup kemungkinan orang terdekat pun akan dikorbankan.

Hal seperti ini mungkin tidak terlalu menarik bagi kita, tipu muslihat mungkin sudah biasa terjadi disekitar kita, pengorbanan kecil yang dilakukan orang lain untuk menolong kita mungkin tidak membawa makna lebih bagi diri kita, namun hal seperti itu bisa saja menjadi penyebab masalah besar yang suatu hari nanti harus kita hadapi tanpa terduga.

Dalam memberikan upaya pertolongan mestinya benar-benar karena didasari oleh kesadaran dan rasa tanggungjawab, sebagai manusia yang tidak bisa hidup sendirian, mestinya kita sadari itu. Sebagai orang yang pernah menerima pertolongan, rasanya sangat tidak pantas jika kita terlalu menghitung-hitung materi, berdiam diri, menunda-nunda dan membiarkan orang yang pernah menolong kita dengan bersungguh-sungguh, merasakan kesusahannya sendiri. Apalagi jika kita ternyata mampu dan tidak ada halangan untuk memberikan pertolongan.

Terkadang bagi sebagian orang yang kukuh menjaga harga diri, meminta pertolongan kepada sesama manusia disaat ia sedang mengalami kesulitan adalah hal yang sangat memalukan, takut dianggap lemah, manja, dan tidak mandiri. Meski disaat itu ia sedang sangat membutuhkan pertolongan. Pada saat seperti ini lah, uluran tangan kita yang mampu dan menyadari kesulitan orang lain sangat berarti kehadirannya. Semoga kita diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk dapat menolong orang lain...

Kamis, 05 Februari 2015

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2015, Sarana Pendekatan dan Pencerdasan

Batam (05/02/2015), Mengangkat tema "Pers Sehat, Bangsa Hebat". Gelaran Hari Pers Nasional (HPN) 2015 diselenggarakan di Kota Batam, Kepulauan Riau. Serangkaian acara terkait pers diselenggarakan untuk memeriahkan peringatan Hari Pers Nasional tahun ini, diantaranya jalan sehat, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis, seminar, bedah buku, konvensi dan pameran industri pers nasional.

Setiap kegiatan untuk memeriahkan Hari Pers Nasional (HPN) 2015 ini memiliki berbagai tujuan, namun satu hal yang pasti adalah semua kegiatan yang diselenggarakan bertujuan untuk lebih mendekatkan masyarakat dengan dunia jurnalistik.



Demikian yang terlihat pada pameran Hari Pers Nasional (HPN) 2015 di Kepri Mall, Batam (05/02/2015). Tampak industri pers nasional menunjukkan produk unggulannnya, seperti MNC Media Group misalnya, yang menyelenggarakan pameran memperkenalkan program pemberitaan dan hiburan media pertelevisian, produk penunjang siaran Televisi Berlangganan, dan "Coaching Clinic" Presenter Berita, yang menghadirkan Presenter Berita Televisi Nasional Global TV, MNC TV dan RCTI secara langsung.



Dengan kegiatan seperti itu, tentu masyarakat yang menyaksikan akan lebih memahami seluk beluk industri pers kekinian, bahwa pers hari ini bukan lagi sekedar penyampaian informasi satu arah, namun sudah menjadi bidang usaha yang membutuhkan keahlian yang ditunjang dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan.


Semoga semua kegiatan yang diselenggarakan untuk memeriahkan Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2015 ini dapat memberi manfaat, menambah wawasan dan ilmu pengetahuan di bidang pers bagi masyarakat yang mengikutinya. Amiin Ya Rabbi . . .

Ayo!! Datang dan saksikan secara langsung, bawa serta sahabat dan keluarga anda. Banyak hal baik dan menarik di Pameran Industri Pers yang diselenggarakan di Kepri Mall, Batam dari tanggal 05 - 09 Februari 2015 ini.

Kamis, 08 Januari 2015

Kabar Merugi Para Penipu

Kata Bijak : "Saat anda melakukan muslihat terhadap orang lain, percayalah, bahwa sebenarnya anda yang akan merugi karenanya".

Banyak referensi lain yang akan menunjang dan membenarkan kata-kata di atas, tapi kita tidak sedang dan juga tidak akan membahasnya panjang lebar. Kita tidak perlu lakukan itu, sebab yang penting dan harus segera dilakukan terhadap para penipu yang memuslihati dan mengkhianati anda, adalah membuktikan kebenaran kata bijak itu. Buktikan bahwa mereka akan merugi karena telah menzalimi diri anda.

Berjanji itu gampang, semua orang bisa melakukannya. Tetapi hanya orang yang berintegritas baik, amanah dan istiqomah yang akan mampu menepati janjinya, dan kemudian hanya orang seperti itu lah yang layak untuk tetap kita pertahankan agar senantiasa ada di sisi kita.

Lalu bagai mana dengan si penipu? Bagi saya, kesempatan untuk orang dengan karakter penipu, cukup diberikan dua kali.

Pertama, saat teman anda menipu dan melakukan muslihat terhadap diri anda, bersabarlah, tetaplah ada bersamanya dan ingatkan bahwa menepati janji yang disampaikan itu adalah lebih baik dari pada mengingkarinya.

Kedua, saat dia kembali ingkar janji dan menipu anda, maka anda harus mulai menjaga jarak, komunikasi secukupnya saja, tidak perlu terlalu ditanggapi. Ingatlah, bahwa anda perlu hidup sukses, tapi tidak butuh ditipu.

Orang penipu seperti itu pun tidak perlu dimusuhi, biarkan saja tetap ada. Anggap saja timun bungkuk yang fungsinya hanya sebagai pelengkap, tidak perlu masuk dalam hitungan. Jadikan ia sakasi hidup (kalaupun masih mampu bertahan hidup), untuk menyaksikan betapa anda layak menjadi teman baik yang sangat menghargai komitmen.

Kabar merugi bagi para penipu tidak perlu disampaikan dengan ucapan, tapi dengan pembuktian, kawan. Pastikan itu . . .

Minggu, 28 Desember 2014

Nasi Goreng dan Manajemen Organisasi Kekinian

Nasi goreng . . .

Dari nama itu, tentu anda yang orang Indonesia sudah sangat familiar. Menu satu ini biasanya akan menjadi santapan pertama anda mengawali aktivitas sehari-hari. Lalu, apa hubungannya dengan manajemen organisasi? Nanti akan saya ceritakan. Sekarang, mari kita bahas "nasi goreng" terlebih dahulu.

Ketika anda mendapat hidangan nasi goreng, yang terlihat pertama kali, tentu adalah bentuknya yang campur aduk di dalam piring makan anda. Namun demikian, aromanya yang khas dan rasanya yang lezat, akan membuat anda mengabaikan tampilannya yang campur aduk. Ya, seperti itu lah Indonesia. Campur-aduk, beraneka ragam, tetapi berpadu serasi seperti nasi goreng.

Untuk membuat nasi goreng yang khas Indonesia, anda harus tahu cara memadupadankan bahan dan bumbu dengan takaran yang pas. Berapa tingkat panas yang dibutuhkan dari kompor di dapur anda, dan berapa lama anda harus mengolahnya. Jika tidak pandai, maka anda tidak akan mendapatkan hasil olahan yang nikmat, campuran bumbu dan bahan yang anda olah, hanya akan menghasilkan nasi goreng yang tidak dapat diterima lidah dan perut orang lain, bahkan jika harus jujur, anda sendiri akan menolak untuk memakannya.

Karenanya, untuk membuat nasi goreng yang nikmat ala Indonesia, anda harus belajar dengan orang yang pandai, banyak-banyak melihat, banyak-banyak mendengar dan belajar mempraktekkannya hingga anda mahir dan mampu mengolah nasi goreng yang dapat dinikmati oleh lidah anda dan orang banyak.

Manajemen organisasi kekinian . . .

Dalam bukunya yang berjudul “The Management Theory Jungle” Harold Koontz, menganggap pengertian manajemen adalah seni menyelesaikan suatu pekerjaan melalui dan dengan beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok formal yang terorganisir.

Dalam bahasa Yunani, organisasi disebut ὄργανον, organon, yang artinya suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisis organisasi (organization analysis).

Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok satu sama lain, dan ada pula yang berbeda. Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah bagi orang-orang untuk berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Namun demikian, sekarang ini teori manajemen organisasi itu, tidak lagi dapat diartikan secara harfiah, gamblang dan kaku. Hari ini, organisasi dan manajemen organisasi digunakan tidak lagi sekedar untuk mencapai tujuan bersama, harus kita akui itu.

Rasulullah S.A.W. bersabda "Bergembiralah dan harapkanlah apa-apa yang menyenangkan kalian. Maka, demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Akan tetapi, aku khawatir akan dibentangkan dunia atas kalian sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba kepadanya sebagaimana mereka yang berlomba-lomba kepadanya. Lalu, dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka". (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak sedikit orang dengan ambisi dan syahwat kekuasaan berlebih yang menggunakan organisasi sebagai ajang pelampiasan nafsu. Mengejar ketenaran dunia dengan memiliki jabatan tinggi, mengumpul kekayaan, dan mengintai kesempatan-kesempatan strategis untuk berbuat memenuhi syahwat kuasanya yang tinggi.

Demi mendapatkan kuasa jabatan, tidak segan menggunakan cara buruk. Memakai jabatan untuk mengintimidasi, menghalangi orang lain dengan berbagai cara agar tidak maju bersaing dengan dirinya, bahkan ada yang berani membayar untuk mendapatkan jabatan. Padahal tanpa disadari, ia sedang berlari melompat ke dalam jurang batu terjal yang akan membinasakan dirinya sendiri.

Individu dengan syahwat kuasa berlebih seperti itu, biasanya cuma pandai bicara, kering visi kepemimpinan, ia tidak akan mampu menjalankan amanah kuasa. Anggota organisasi akan terabaikan, dan tujuan organisasi tidak tercapai dan cenderung menjadi hilang arah.

Orang yang rakus dengan harta kekayaan, jabatan dan segala fasilitas serta kesempatan-kesempatan yang dapat dilakukan dengan harta dan jabatan yang dimiliki, terkadang menganggap diri sudah memiliki materi harta dan jabatan yang lebih dari pada yang lainnya, lupa aturan, dan bertindak sesuka perutnya saja.

Dengan mudah ia akan menilai orang lain rendah dan tidak bisa berbuat apa-apa, padahal semua orang sudah ada bagiannya masing-masing, kemampuan seseorang mencapai tujuan tidak akan terbatas hanya karena ia lemah dari segi finansial.

Tidak sedikit pula contoh konkret orang gagal dan menjadi nista, karena lalai dan ingkar pada amanah kuasa kecil yang dititipkan orang lain kepadanya. Di Negara kita Indonesia, sudah tercatat dan tergambar jelas dan tegas, petinggi organisasi yang awalnya mulia dengan jabatan dan kata-katanya, menjadi nista karena perbuatannya yang tidak amanah, tidak jujur, dan terlalu mendahulukan syahwat kuasa dari pada berbuat jujur dan megayomi orang yang dipimpinnya.

Kita diminta untuk belajar lebih dari pengalaman terdahulu, baik yang telah terjadi pada diri kita pribadi, di lingkungan kita, atau pada catatan sejarah, kisah yang telah terjadi pada orang-orang sebelum kita ada.

Lalu, apa hubungannya dengan "nasi goreng"?

Seperti nasi goreng, anda tidak boleh mengolahnya secara kurang atau berlebihan, bumbu dan bahan yang anda olah harus sesuai dengan takaran dan ketentuan. Kalaupun anda ingin bereksperimen membuat cita rasa baru, harus anda lakukan di dapur pribadi, tidak untuk dihidangkan di meja tamu. Karena jika tidak, bukan saja nasi goreng yang anda hasilkan tidak bisa dinikmati, bahkan anda sendiri akan menjadi malu, karena menghidangkan menu nasi goreng yang tidak sedap.

Demikian pula halnya dengan organisasi, manajemen organisasi harus berjalan sesuai dengan ketentuan yang sudah ada, organisasi yang kita pimpin tidak bisa dijalankan sesuka perut kita saja, sebab ada kepentingan orang banyak yang beraneka ragam yang ingin dicapai bersama melalui organisasi, ada ketentuan dan aturan yang harus diikuti dengan baik, kalau pun harus berubah, ada tempat dan masanya untuk merubah. Maka dengan demikian, anda akan terhindar dari kesalahan-kesalahan yang akan merusak dan menghancurkan diri anda sendiri.

Jumat, 15 Agustus 2014

Mengembangkan Potensi Ekonomi Kerakyatan Melalui Kegiatan Koperasi Pemuda

Kemiskinan yang dialami umat manusia di dunia, karena mereka tidak memiliki kemampuan memperoleh penghasilan yang layak untuk memenuhi kebutuhan minimum. Ketidakmampuan ini bersumber dari kurangnya pengetahuan dan pendidikan, sehingga peluang mendapatkan pekerjaan yang layak sangat kecil. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar kondisi ekonominya berada di sekitar garis kemiskinan sangat rentan apabila terjadi kegoncangan ekonomi, maka merekalah yang paling cepat berubah dari posisi pas-pasan menjadi miskin. Jumlah masyarakat dalam kondisi seperti ini di Indonesia, hingga bulan maret 2014 adalah sebesar 28,28 juta orang (sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia).

Lalu muncul pertanyaan penting, pendidikan seperti apa yang dibutuhkan masyarakat menengah ke bawah ini, kenapa sampai dengan hari ini, setelah 69 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merdeka, dengan kekayaan sumber daya alam, suburnya tanah air kita dan letak geografis Negara kita yang strategis untuk perdagangan internasional, rakyat di Negara kita ini masih saja banyak yang belum hidup makmur? Ada apa ini? Apakah pendidikan ilmu ekonomi yang dipelajari di sekolah, atau cara berdagang yang diturunkan nenek moyang, atau meniru pengalaman suku keturunan seperti China, India dan Arab masih belum cukup? Kita bisa lihat lah, siapa dan dari latar belakang yang seperti apa orang yang sukses berbisnis di Indonesia.

Pendidikan formal masyarakat kita mungkin tidak terlalu beda jauh dengan pendidikan formal suku keturunan, namun boleh jadi budaya dan prilaku berbisnis masyarakat asli yang masih kurang berorientasi pada upaya penggerakan ekonomi yang lebih maju dan tangguh, agar dapat bersaing dengan kelompok lainnya. Hal ini dibuktikan bahwa lembaga keuangan di Indonesia lebih mudah memberikan kredit kepada masyarakat keturunan dibandingkan dengan masyarakat asli. Fakta membuktikan bahwa hampir semua jalan protokol atau wilayah strategis untuk berbisnis di kota-kota besar di Indonesia sudah dikuasai masyarakat keturunan, sedang masyarakat asli semakin tergusur ke pinggiran kota.

Kondisi seperti  ini akan berlanjut terus menerus jika tidak ada usaha penalaran bagi masyarakat tentang prilaku dan kebiasaan dalam hal memperoleh uang dan bagaimana menggunakannya secara bijaksana dan bertanggungjawab. Atas pertimbangan inilah maka kami berpikir bahwa pelatihan koperasi memang diperlukan untuk mentransformasikan konsep sosial ekonomi dikehidupan masyarakat kita.

Kita ketahui bersama, bahwa koperasi memiliki jati diri yang dikeluarkan ICA (International Cooperative Alliance) pada tahun 1995 di Manchaster United Kingdom (Inggris), yang terdiri dari tiga bagian penting, yaitu Devinisi Koperasi, Nilai-nilai Koperasi dan Prinsip-prinsip Koperasi. Upaya sosialisasi dan pendidikan tentang koperasi ini memang mutlak dilaksanakan di Negara kita. Ada beberapa alasan penting dan strategis yang mendasarinya, yaitu bahwa lewat pendidikan atau pelatihan dan informasi tentang koperasi, kita dapat mengetahui filosofi Koperasi, mengetahui hak dan kewajiban serta mengetahui manfaat yang diterima dari koperasi. Dengan pendidikan atau pelatihan, kita dapat merubah mindset bagaimana cara bekerja untuk memperoleh penghasilan yang layak dalam usaha memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Dengan pendidikan atau pelatihan dan informasi tentang koperasi, kita dapat menggunakan uang dari penghasilan secara bijaksana dan bertanggungjawab, sehingga mereka yang sudah mendapatkan informasi tentang koperasi ini dapat memahami dan melaksanakan Anggaran Belanja Keluarga (ABK) koperasi. Dengan pendidkan atau pelatihan dan informasi, pengurus, pengawas, serta staf koperasi nantinya dapat memahami pengelolaan keuangan koperasi secara prudent accountable dan responsible serta trasparan kepada anggota dan masyarakat. Dengan pendidikan atau pelatihan dan informasi tentang koperasi, pengurus koperasi dapat mengawasi secara sistematis dan akurat sehingga menghindari praktik-praktik penyalahgunaan kekuasaan, dan atau penyalahgunaan keuangan yang menyebabkan koperasi bermasalah sampai bangkrut. Dengan pendidikan atau pelatihan dan informasi koperasi, pengurus dapat mengembangkan koperasi berskala besar sehingga meningkatkan market share serta meningkatkan volume usaha untuk meningkatkan pendapatan. Dengan pendidikan atau pelatihan dan informasi, koperasi dapat menjamin regenerasi kepengurusan dan pelaksana, serta keberlangsungan koperasi itu sendiri. Sehingga dapat diteruskan oleh generasi yang akan datang dengan lancar.

Dengan alasan tersebut, maka pendidikan, pelatihan dan informasi tengang koperasi yang merupakan basis ekonomi kerakyatan, tentu bukan merupakan beban bagi pemerintah di Indonesia, melainkan suatu kebutuhan yang harus dijalankan. Setiap lembaga ekonomi dan kelompok sosial dapat berpartisipasi aktif dalam menggerakkan sistem ekonomi kerakyatan yang bernama koperasi ini. Koperasi-koperasi seperti ini lah yang diharapkan oleh pendiri bangsa kita, yaitu DR Mohamad Hatta untuk menciptakan sosial ekonomi yang berdaulat dan berkeadilan menuju masyarakat adil dan makmur.

Salah satu jawaban untuk meningkatkan keberdayaan Gerakan Koperasi adalah melalui Pendidikan dan Pelatihan Perkoperasian  yang terus menerus dilakukan secara berkesinambungan dan sistimatis. Sebagaimana diuraikan diatas, sangat perlu kiranya agar kita terus menggesa upaya ini, terutama upaya pengenalan dan pembelajaran tentang koperasi kepada generasi muda di lingkungan kita. Dengan memberikan pendidikan dan pelatihan tentang perkoperasian kepada pemuda, maka pengetahuan tentang pengelolaan ekonomi berbasis kerakyatan dapat terus menerus dijaga dengan baik. Kemudian diharapkan agar pengetahuan ini dapat diturunkan terus kepada generasi selanjutnya sebagai modal hidup yang baik dan bermanfaat. Dengan demikian, diharapkan agar pemuda mampu mengambil peluang strategis untuk mengelola potensi lokal yang ada, melalui koperasi.

Untuk itu maka peranan organisasi kepemudaan sebagai wadah berkumpulnya pemuda, harus berupaya hadir guna mengakomodir kebutuhan pemuda kekinian. Demikian pula halnya dengan unsur pemerintahan dan lembaga pendidikan, yang terkait dengan kegiatan perekonomian, khususnya kegiatan perkoperasian. Gerakan Koperasi Pemuda harus diupayakan oleh seluruh unsur, agar lebih cepat berkembang menjadi pondasi gerakan ekonomi baru, yang dipadu-padankan dengan pengetahuan yang sudah ada sejak lama.

Tentunya gagasan ini kami harapkan dapat menjadi langkah awal, yang dapat memberikan gambaran wacana dan inspirasi baru, agar kelompok-kelompok pemuda dapat lebih mengerti potensi diri dan lingkungan sekitarnya, sehingga bisa mengambil peran lebih, dalam rangka mengelola sumber daya alam dan memanfaatkan letak strategis daerah tempat tinggalnya hari ini melalui kegiatan usaha koperasi yang merupakan basis ekonomi kerakyatan.

__________
Terima Kasih . . .

Sabtu, 19 Juli 2014

Mental Pemulung Orang-Orang Terdidik

Jalan Garuda #36
Tombak pusaka, senjata pamungkas seorang ksatria, hanya akan menjadi alat pengais sampah di tangan seorang pemulung . . .

Kembali berpikir lebih dalam tentang amanah pengetahuan, dan kesempatan mengemban jabatan di lingkungan sosial, di antara kita. Mungkin catatan di atas, yang saya buat untuk mengawali tulisan ini, agak sedikit menggelitik minat berpikir saudara. Mari kita telaah lebih jauh, semampu saya berpikir tentunya.

Tombak merupakan senjata yang identik dengan perlengkapan perang, dahulu, sebelum kita mengenal senjata canggih seperti sekarang ini. Selain pedang, pisau, badik, dan panah, tombak kerap digunakan pada perang tradisional. Sekarang ini, tombak mungkin hanya dipakai untuk berburu babi hutan dan pada perlombaan olahraga saja.

Lalu apa hubungannya antara tombak dengan pemulung?
Apakah pemulung menggunakan tombak untuk bekerja?

Tentu saja pemulung tidak menggunakan tombak untuk bekerja, bisa ditangkap petugas keamanan lingkungan kalau ada pemulung yang membawa tombak kemana-mana. Hahhaha!! Tapi dalam hal ini, kita tidak sedang menggiring opini ke arah tersebut. Saya hanya membuat sebuah kemungkinan, andai seorang pemulung menemukan sebuah tombak di tempat sampah. Tentu tombak tersebut tidak akan dipergunakan untuk berperang, atau berburu babi, sebab babi hanya ada di kampung yang hutannya masih lebat, tidak mungkin ada pemulung di kampung-kampung seperti itu. Negara kita pun masih aman, tidak ada perang.

Pemulung pun tidak akan mungkin ikut di perlombaan olahraga cabang lempar lembing, apa mungkin ada kesempatan seperti itu? Kecil kemungkinannya. Nah, karena itu, tentu tombak yang didapatkannya bisa jadi akan dipatahkan matanya, diambil kayu gagangnya, kemudian dijadikan tongkat pengais sampah. Besar kemungkinan akan dipergunakan untuk hal itu.

Demikian pula halnya dengan amanah ilmu pengetahuan dan kesempatan mengemban jabatan, yang diperoleh oleh seorang individu bermental pemulung. Besar kemungkinan ilmu pengetahuan dan jabatan yang dimilikinya tidak akan bermanfaat lebih, hanya dipergunakan untuk kepentingan perutnya saja, sekedar untuk membanggakan diri. Tidak untuk manfaat lebih besar yang berdampak baik, bagi orang banyak.

Biasanya, individu-individu seperti itu (baca : bermental pemulung), tidak mampu berpikir kreatif, tidak punya visi dan gagasan besar, tidak visioner. Mereka senang menunggu, menanti kesempatan baik datang menghampiri, tidak berani berbuat. Padahal sebagai individu yang memiliki ilmu pengetahuan baik, apalagi yang telah mendapatkan amanah jabatan, mestinya lebih banyak berpikir, lebih gigih bergerak, lebih berani berbuat untuk kebaikan diri, keluarga dan orang banyak di sekelilingnya, yang dengan kesungguhan hati dan harapan besar, menitipkan amanah kepadanya.

Catatan ini saya tuliskan bukan untuk menghujat anda, yang berkenan membaca. Tidak, bukan seperti itu kawan. Saya hanya sekedar mengingatkan diri ini, dan mungkin anda yang berkenan menjadikan tulisan saya ini sebagai bahan introspeksi diri, seperti yang saya lakukan sekarang ini. Berpikir, kembali mengingat, apakah diri ini yang telah memiliki ilmu pengetahuan dan diberi amanah jabatan, sudah berpikir, bergerak, berbuat sesuai dengan yang semestinya. Atau masih berlaku seperti seorang pemulung sampah!?!!

Mohon maaf jika sekiranya tidak berkenan . . .
Terima kasih telah berkenan membaca

Senin, 05 Agustus 2013

Negeriku Kini

Bismillahirrahmaanirrahiim
Dari sudut kelabu ruang karantina kurangkai asa
Hatiku gundah
Sebab negeriku kumuh, busuk !!
Bukan, bukan kumuh karena sampah
Bukan pula busuk karena kotoran
Tapi . . .
Negeriku kini dipenuhi kemunafikan
Negeri melayu ini, kotor karena kebohongan
Pemimpin negeri lupa amanah
Generasi pengganti kehilangan arah
Adat istiadat tak lagi diperdulikan
Petuah orangtua dianggap candaan
Teman berbuat baik ditertawakan
Berbuat buruk menjadi kebanggaan
Katanya . . .
Tidak merokok tak gaul
Tidak dugem enggak asik
Topi miring, jack daniel dan chivass
Dijadikan pengganti dzikir
Sementara ekstasi, sabu dan cimeng
Seakan cemilan . . .
Bangga?
Kau bangga?!??
Mestinya waktu yang singkat ini tidak kau sia-siakan
Tidak perlu lah kita merusak diri, ukir prestasi
Itu yang dibutuhkan

Nilam suri
Sebelas hari bulan juni
Tahun dua ribu tiga belas

Dibacakan pada Pagelaran Seni Kampus se Kepulauan Riau, BNNP KEPRI, di Mega Mall Batam Centre, Minggu, 15/6/2013

Selasa, 20 November 2012

Pahlawan-Pahlawan Siang

Aku diterpa badai yang menggila
Gelombang besar setinggi gunung meluluh-lantakkan biduk kertasku
Tiada tempat berlindung, tak kutahu tempat mengadu
Hanya keyakinan yang masih tersisa
sebab, perbekalanku pun telah tiada
Hanyut, tercampakkan . . .

Kabar burung yang kudengar
Katanya, didaratan sana, banyak yang berteriak, bersuara!
Jangan apatis, jangan jadi pengecut!
Jangan abaikan saudara kita yang dilanda bencana!
Mari kita bantu dia yang dilanda badai
Mari kita tolong bersama-sama

Benarkah? Benarkah itu, kawan?
Tapi mana?! Kenapa mereka tak kunjung tiba?

Sabtu, 11 Agustus 2012

Tunggu nanti, lihat saja!!

Kemarin, suatu sore pada Ramadhan minggu ke tiga 1433 H. Saat aku duduk termenung di depan rumah kost tempat tinggalku, di Kampung Seraya-Batam. Tiba-tiba saja aku mendengar suara tangis seorang anak lelaki kecil yang terjatuh dari sepedanya, karena tanpa sengaja roda sepedanya terperosok ke dalam lubang besar berbatu di seberang jalan sana. Hal itu tentu saja membuat aku tersentak dan tersadar dari lamunan singkatku, suara tangisnya yang merintih pilu berhasil membuat beberapa pasang mata menatap iba padanya.

Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, cuma butuh waktu sebentar saja bagi si anak untuk kembali bangkit dan berhenti menangis. Beruntung baginya, karena ada sang kakak yang segera turun dari sepedanya untuk membujuk dan menenangkannya. Sehingga si kecil itu dapat kembali berdiri dan tetap tegar. Kemudian mereka pergi berlalu dengan sepedanya dan meninggalkan tatapan heran dari orang yang sebelumnya menaruh rasa iba terhadap keadaan anak kecil tadi. Termasuk aku.

Berkah Ramadhan, mungkin ini yang kata orang "Tidurnya orang puasa pun akan dicatat sebagai amal ibadah baik". Hahhaha! Entah apa pun lah itu, yang ku tahu ada hikmah dan pelajaran yang dapat ku ambil dari kejadian singkat tadi. Lalu apa itu? Mau aku ceritakan, kawan?! Sedikit berbagi, tidak mengapalah. Semoga saja dapat dijadikan sebagai pelajaran berharga dan amal baik untuk sesama, aamiin.

Jadi begini, dulu waktu aku masih kanak-kanak. Saat aku baru mulai belajar mengendarai sepeda, aku juga pernah jatuh seperti anak itu tadi. Parahnya lagi, aku tidak hanya jatuh sekali di kerasnya kerikil aspal, bahkan aku pernah merasakan dinginnya air parit (comberan) karena kecerobohanku yang terlalu kencang mengayuh sedel sepeda dan tidak ingat untuk menggenggam rem tangan tepat pada waktunya. Begitulah, tentunya dapat di bayangkan tampangku saat keluar dari parit itu. Yah, beda-beda tipis lah dari tampang "om arnold" di filem predator, yang tubuhnya berlumuran lumpur. Hehhe!

Tidak tertanggungkan rasanya malu dan kesal yang harus kuterima ketika kawan-kawan sepermainan menertawaiku dengan hebohnya, setelah membantu aku naik dari kubangan lumpur parit yang bau itu tentunya. "ape pasal engkau macam orang sawan gitu way? mentang-mentang hari panas, nak berendam di lumpur pulak ye? Macam kerbau, Wwwaaahhahaahahaaha!". Begitulah sebagian ungkapan teman-temanku, yang sampai sekarang tidak pernah bisa aku lupakan.

Waktu itu, dengan kesalnya aku bilang "Tunggu nanti, lihat saja..." Hehhehehe! Bahkan aku tidak paham dengan apa yang aku ucapkan ketika itu. Cuma kalimat itu yang terpikirkan olehku, yang aku anggap dapat menyelamatkanku dari rasa malu yang menghantam dengan kerasnya. Bukan mendendam, tetapi sekarang hal itu aku jadikan sebagai motivasi dan pengingat, agar tidak lagi berlaku ceroboh dan segera bangkit untuk melakukan hal yang lebih baik dari sebelumnya.

Bukankah orang-orang hebat juga pernah jatuh dan bahkan terpuruk dalam kegagalan!? Hohhhoho! Yang penting adalah proses pemahaman tentang arti jatuh dan semangat untuk bangkit kembali dari keterpurukan itu, disitulah pelajaran baiknya di selipkan oleh Zat Pemilik Ilmu Pengetahuan, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang akan senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar. Insyaallah, Aamiin Ya Rabbal'alamiin.

Toh sekarang aku dapat mengendarai sepeda dengan baik, bahkan tanpa memegang stang sepeda pun aku dapat melaju tanpa gangguan. Benar kiranya kata orang bijak, "Bahwa di saat kita terjatuh, berarti saat itu kita sudah melampaui batas kemampuan yang kita miliki. Maka segera bangkitlah untuk kembali berlatih dan berdo'a kepada sang pemilik ilmu pengetahuan, yang telah mengamanahkan kemampuan itu kepada kita, untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Semoga kemampuan kita bertambah dan menjadi lebih baik dari sebelumnya, aamiin".

Itu ceritaku di Ramadhan ini, bagai mana dengan kamu, kawan? Yuk, mari berbagi kebaikan di bulan yang suci ini. Semoga menjadi Ramadhan yang semakin berkah . . .

Minggu, 17 Juni 2012

All About I Dont Know

Ini cerita iseng tentang kawan saya yang dikasi kesempatan jalan-jalan ke paris, kawan saya ini memang beruntung, menang undian voucher jalan-jalan ke paris, hasil lomba panjat pinang di acara tujuh belasan, tahun lalu. HeheHeheee :D

Sebagai seorang pemuda kampung yang biasa-biasa saja, bambang (nama kawan saya ini), cuma mengerti bahasa Indonesia dan bahasa kampungnya saja. Sialnya lagi, travel guide yang mendampinginya bisa dikatakan kurang lebih juga dengan si bambang ini. Sehingga komunikasi diantara mereka tidak terlalu bagus.


Paris, hari pertama . . .

Sesampainya di paris, bambang langsung dibawa ke menara eiffel. Sungguh sangat indah disana, menara bersejarah yang menjulang tinggi, membuat bambang penasaran ingin tahu sejarahnya. Bertanya bambang kepada guide-nya itu "siapa yang merancang menara sekokoh ini" (dengan bahasa Indonesia), si guide itu pun menjawab "I Dont Know Sir" (karena dia belum sempat membaca dan mempelajari sejarah menara tersebut). Celakanya, si bambang salah tanggap, dikiranya si guide memberitahunya bahwa yang merancang menara itu adalah si "I Dont Know Sir" itu. Dengan senyum bangga, bambang pun berkata "Oooooh, hebat betul si I Dont Know Sir itu ya!". Si guide yang tidak begitu mengerti dengan bahasa Indonesia, hanya mengangguk saja. Setelah puas melihat-lihat dan foto-foto disana, mereka pun pergi ke hotel tempat bambang akan tinggal selama disana.

Di depan sebuah hotel mewah (hotel bintang lima) tempat bambang menginap, ia pun bertanya kepada travel guidenya "Siapa yang punya hotel mewah ini?", si guide yang juga tidak tahu siapa yang punya hotel, kembali menjawab "I Dont Know Sir". Bambang pun terkejut mengetahui hal tersebut, dalam hatinya ia berkata, "Sungguh luar biasa mister I Dont Know Sir itu, sudah merancang menara eiffel, dia juga punya hotel semewah ini". Tanpa banyak tanya lagi, bambang pun mengikuti si guide yang mengantarkannya menuju kamar tempatnya menginap.


Paris, hari kedua . . .

Setelah mengikuti program jalan-jalan yang dijadwalkan oleh travel guide-nya, dari pagi tadi, bambang pun minta diantar ke mesjid terdekat untuk menunaikan sholat zuhur. Tetapi yang sangat disayangkan, begitu keluar dari mesjid, usai sholat, sepatunya hilang, dicuri. Dengan bingung, bambang bertanya kepada guide-nya "Siapa yang mencuri sepatu saya?". Si guide yang tidak mengetahui siapa yang mencuri, hanya menjawab "I Dont Know Sir". Marahlah si bambang mendengar jawaban si guide "Kurang ajar si mister I Dont Know Sir itu, sudah kaya, masih saja suka mencuri". Kemudian bambang mencak-mencak gak jelas dengan bahasa kampungnya, yang membuat si guide semakin bingung.

Tidak lama kemudian, lewat lah ambulan dengan sirinenya yang nyaring menjemput pasien yang kebetulan baru mengalami kecelakaan di jalan sekitar tempat mereka berada. Karena bingung dan penasarannya yang begitu besar, si bambang pun bertanya kepada si guide "Siapa itu yang mengalami kecelakaan?". Si guide yang juga tidak tahu siapa orangnya yang mengalami kecelakaan, hanya menjawab "I Dont Know Sir". Mendengar itu, dengan riangnya si bambang tertawa dan berkata kepada si guide "Tuh, lihat, itu contoh orang serakah, kamu jangan seperti itu ya!? sudah kaya, tapi masih saja suka mencuri, kualat dia sekarang..wahhhaahaahhaahahaaha". Si guide yang bingung, cuma cengar-cengir sambil ikutan ketawa...............



Upppssssssssssss, ini cuma cerita candaan aja, jangan terlalu dimasukin ke hati, ya?! Tidak ada maksud menyinggung orang lain yang memiliki nama yang sama..hehe ;D

Minggu, 20 Mei 2012

Semangat Kebangkitan Pemuda Melayu

Apalah tanda batang putat
Batang putat bersegi buahnya
Apalah tanda orang beradat
Orang beradat tinggi marwahnya

 
Bahagianya hati ini, kami yang terlahir dan besar di tanah melayu. Membuat proses tumbuh-kembang pribadi kami menjadi kuat, menjadi pribadi pemuda yang kokoh dan senantiasa ingin belajar dan memperbaiki diri untuk menjadi generasi baru, yang nantinya akan meneruskan tampuk kepemimpinan Bangsa Melayu di Negeri kita yang besar ini. Tidak sedang menyombongkan diri, atau melebihkan eksistensi anak-anak Bangsa Melayu. Tetapi memang demikianlah adanya, kami tumbuh dan berkembang bersama di kehidupan Islami yang telah ter-metamorfosa di dalam adat yang menjadi warna indah dalam keseharian kami. Sampai kapan-pun, selama masih ada bujang-dara melayu yang mencintai budayanya dan menjalani hidup berdasarkan Adat Melayu yang bersandikan Syara' dan Syara' yang bersandikan Kitabullah. Maka selama itu pula Negeri Melayu ini akan terjaga ketentramannya. Kenapa demikian? tentunya kami tidak asal bicara. Masih ingatkah kawan dengan "Gurindam Dua Belas, Gubahan Raja Ali Haji" yang merupakan karya sastra tinggi itu? Disana dimuat nasihat-nasihat tentang kehidupan yang sangat dalam maknanya. Demikianlah gambaran adat Bangsa Melayu yang senantiasa berpedoman pada Kitabullah.

Berkaca dari pencapaian generasi pendahulu yang telah mengukir sejarah dalam mempersatukan Negara Indonesia. yang dimulai dari sebelum kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bangsa Melayu telah pun memberi kontribusi besar dalam usaha mempersatukan kita. Saat Bahasa Melayu kemudian menjadi benih dari lahirnya Bahasa Indonesia. Yang mempersatukan banyak suku dan keanekaragaman budaya dan bahasanya di Negara kita yang besar ini. Bahkan sampai dengan sekarang, saat Negara kita telah merdeka. Bangsa Melayu masih saja memberi kontribusi yang tidak sedikit bagi pembangunan Bangsa Indonesia. Betapa tidak!? Kekayaan alam berupa hasil laut, pertanian dan hutan lindung yang dirambah sedemikian rupa, kemudian sumber daya mineral yang disedot dari bumi Negeri Melayu ini, untuk dijadikan pendapatan Negara, tentunya tidak dapat dipandang sebelah mata oleh siapapun yang menghirup udara kebebasan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tetapi, meski pun demikian, ternyata masih banyak ketimpangan dan kezaliman yang diterima oleh anak keturunan Bangsa Melayu dari pemerintah yang seharusnya mengayomi kami sebagai Anak Bangsa, dengan cara yang terhormat pula. Bukannya menampikkan keberadaan kami, dengan menetapkan aturan-aturan yang malah membuat kami sengsara dalam menjalankan hidup di Negara ini.


Jika kita tidak bergalah
Jangan takut membentang kajang
Jika kita tidak bersalah
Jangan takut ditentang orang


Memang, kami senantiasa dinasihati oleh orangtua kami untuk senantiasa berbuat baik tanpa mengharap imbal jasa. Itu pun telah kami lakukan sedemikian rupa dalam kehidupan kami sehari-hari. Tetapi hal itu tentunya tidak dapat dijadikan alasan agar kami hanya berdiam diri, tanpa berikhtiar dalam menuntut keadilan dari kebijakan pemerintah yang menjalankan amanah yang telah kami percayakan selama ini.

Sungguh sangat besar harap dan asa yang kami impikan, sebagai anak Bangsa Melayu yang berada di perantauan dan menjalankan sunnah peradaban dengan menuntut ilmu pengetahuan. Apalagi jika mengingat marwah Bangsa Melayu yang akhir-akhir ini sudah semakin tercoreng oleh perbuatan oknum beberapa Pemimpin Negeri, harap dan asa itu seakan menggelegak, memanas. Karena ke-tidak-ikhlas-an kami terhadap perilaku destruktif yang dipertontonkan oleh orang-orang yang semestinya mengajarkan hal baik kepada generasi muda, orang-orang yang seharusnya menjadi figur yang dapat di tiru perilakunya sebagai Wakil Rakyat.

Begitulah kiranya, Forum Komunikasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Riau (FORKOM IPEMARI) se Indonesia. Yang merupakan organisasi pengampu amanah kaum terpelajar (mahasiswa) asal Riau yang menuntut ilmu pengetahuan diluar Provinsi Riau. Sebagai wadah silaturrahmi dari seluruh Organisasi Pelajar Mahasiswa Riau di seluruh Indonesia, FORKOM IPEMARI senantiasa mencoba memberi andil dalam dinamika sosial yang berlangsung di Provinsi Riau, maupun di tingkat Nasional.

Banyak agenda besar Riau yang selayaknya kita perhatikan bersama, penyelenggaraan PON XVIII tahun 2012 ini, misalnya. Selain sebagai hajatan Nasional para olahragawan se Indonesia, kegiatan ini juga dapat mengangkat Marwah Bangsa Melayu di mata masyarakat awam lainnya. Namun sayang, belum lagi hajatan besar ini terselenggara, namun cobaan dan rintangan sudah lebih dahulu menghampiri dan coba menggoda ketabahan panitia penyelenggara kegiatan. Misalnya, kasus suap penetapan anggaran PON XVIII tahun 2012 di Riau, yang sekarang sedang dalam proses penyidikan. Sungguh, semua itu terasa sangat menyesakkan. Lantas apa yang harus kita lakukan saat ini, setelah semuanya berlalu? Tentunya waktu takbisa diputar ulang. Kita hanya bisa mendulang emas di antara kerikil dan pasir kehidupan masa lalu. Yakinlah bahwa proses yang penuh kesulitan hanya membutuhkan penataan yang apik. Bersikaplah wajar selayaknya orang dewasa yang beradab. untuk mengubah semuanya, tentu bukan hal yang mustahil. Percayalah, masih ada waktu untuk berbenah dan memperbaiki.


Apalah tanda padi berbuah
Lebatlah tangkai daunnya subur
Apalah tanda negeri bertuah
Rakyatnya damai hidupnya makmur


Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang direbut dengan darah pejuang, tentu harus di isi dengan pembangunan segenap lapisan masyarakat, termasuk pemuda. Agar Bangsa Indonesia dapat tumbuh sebagai Bangsa yang kuat serta mampu bersaing dengan Bangsa-bangsa lain di kancah pergaulan internasional, sehingga Bangsa ini tidak kembali terjajah. Mendiang mantan Presiden pertama Indonesia (Bung Karno), pernah berpesan, bahwa penjajahan akan terus ada di muka bumi dalam berbagai bentuk imperialisme baru. Mulai dari imperialisme ekonomi hingga imperialisme politik dan budaya. Bangsa yang kuat akan cenderung menjajah yang lemah dan Negara yang lemah akan cenderung takluk dalam genggaman Negara adikuasa. Karenanya, dalam menghadapi berbagai bentuk imperialisme baru. Maka, memandirikan Bangsa agar tetap dapat terus berdiri sama tegak dan duduk sama datar (sederajat) dengan Bangsa-bangsa lain di dunia. Adalah bentuk perjuangan nyata di era kemerdekaan. Bukan dengan senjata, tetapi dengan keunggulan dan kemampuan bersaing dengan Bangsa-bangsa lain di dunia.

Karena kehidupan dan kematian terus berlalu, yang kini hidup kelak akan mati dan di gantikan oleh yang kini masih muda. Maka perjuangan itu mesti diteruskan dalam estafet yang tiada henti. Jelas, bahwa bakal penerus estafet perjuangan Bangsa itu adalah generasi muda. Pemuda adalah harapan masa depan Bangsa, kata-kata tersebut tentunya bukan sekedar retorika untuk melebih-lebihkan peran pemuda. Sebab di tangan pemudalah masa depan Bangsa berada. Ketika para pemegang tampuk pemerintahan kelak pensiun, ketika para eksekutif dan professional kelak uzur, ketika para entrepreneur kelak menjadi tua, ketika para pemuka adat sudah tidak lagi sanggup mengingat perjalanan sejarah dan ketika guru sudah tidak sanggup lagi melihat huruf-huruf yang terangkai di dalam sebuah buku. Maka para pemudalah yang nantinya akan menggantikan mereka. “kami tidak lagi bisa berkata kaulah sekarang yang berkata. Teruskan, teruskan jiwa kami” kata Chairil Anwar.

Kondisi masa depan Bangsa sangat bergantung pada kondisi kaum muda saat ini. Jika saat ini mereka kurang baik, kemungkinan akan tidak baik pula Bangsa ini dimasa depan. Jika kualitas Sumber Daya Manusia Pemuda Indonesia lemah, maka di masa depan, Bangsa Indonesia pun harus siap kalah. Tetapi jika mereka (kaum muda) dapat tumbuh dan berkembang sebagai bibit unggul yang memiliki daya saing tinggi, maka Bangsa ini mempunyai harapan untuk memiliki masa depan yang gemilang.

Justru karena itu, pemuda perlu mendapatkan perhatian khusus dalam pembangunan Bangsa. Pernyataan bahwa pemuda adalah pemimpin dan harapan masa depan Bangsa tidak dapat di biarkan berhenti sebatas retorika saja. Mereka harus digarap dan dipersiapkan sejak saat ini, agar kelak benar-benar mampu tampil sebagai putra-putri pemimin Bangsa yang handal dan mampu memenuhi harapan masa depan masyarakat. Pemberdayaan pemuda perlu dilakukan dengan berbagai cara dan di berbagai sektor pembangunan, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat dan cerdas. Sehingga kelak dapat menjadi tokoh-tokoh masyarakat, pelaku bisnis dan dunia kerja yang berdaya saing tinggi, serta jujur dan mandiri, untuk dapat membawa Bangsa ke arah kejayaan. Bukan ke arah keterpurukan.

Adalah tugas bersama pemerintah dan masyarakat untuk membina dan memberdayakan pemuda sejak saat ini. Tidak hanya melalui lembaga pendidikan formal, tetapi juga lembaga pendidikan non formal. Tidak hanya melalui keluarga, tetapi juga melalui lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dan kepemudaan yang ada. Jangan salahkan pemuda yang tidak siap menghadapi masa depan, jika kita tidak pernah membina dan memberdayakan mereka secara maksimal. Jangan salahkan pemuda jika kelak mereka tidak siap memimpin Bangsa dengan cara yang benar, jika kita tidak memberi contoh yang baik dan mempersiapkan serta memberi kesempatan pada mereka untuk belajar memimpin sejak sekarang. Semoga melalui peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, semangat kebangkitan Bangsa Melayu akan senantiasa terjaga, yaitu semangat membangun negeri dengan cara yang baik dan benar, cara yang santun dan beradab.

_________________
Terima Kasih . . .

Minggu, 08 April 2012

Celoteh untuk "abang" berbaju coklat

Jangan suka mencabut padi
Kalau dicabut hilang buahnya
Jangan suka menyebut budi
Kalau disebut hilang tuahnya . . .


Begitulah nenek moyang bangsa melayu mengajarkan kepada generasi penerus yang sampai dengan sekarang masih bertahta di Bumi Tuhan ini. Budaya, kawan . . budaya! Orang bilang, budaya itu adalah kebiasaan hidup yang mengakar dan dilakukan terus-menerus. Lalu, masihkah kita berbudaya? Tentu saja dengan bangga kita dapat menjawab dengan kata "iya" haHha !! Tetapi apakah budaya yang kita jalani sekarang masih dapat dikatakan sehat? Nah . . itu dia kawan, aku mulai khawatir dengan itu.

Banyak kawan muda di beberapa organisasi kepemudaan yang senang jika mengadakan demonstrasi, ada masalah sikit . . langsung angkat bendera dan turun ke jalan, teriak-teriak tidak karuan. Macam orang yang tak pernah diajar sopan santun saja dimasa kecilnya. hmHmmmm, begitulah Bangsa kita sekarang kawan, entah siapa yang memulai, entah siapa yang mengajarkan. Mana aku tahu !!

Oleh karena itu, tulisan ini coba kurangkai. Semoga dengan petuah nenek moyang bangsa melayu ini, aku dapat memberi warna dalam jejak langkah insan pembaca dalam menjalankan tugas kalifah fill 'ardh yang senantiasa akan kita pertanggungjawabkan bersama suatu ketika nanti.


Tak ada gading yang tak retak...
Laut mana yang tak berombak dan bumi mana yang tak kena hujan ?!?!

Sejarah nasional Indonesia, baik di masa pergerakan perjuangan kemerdekaan, sampai kepada masa reformasi pemerintahan. Menunjukkan bahwa setiap perubahan pasti selalu melibatkan peran pemuda dengan kekuatan moral dan kepribadiannya yang mantap. Kepribadian generasi muda yang mantap dan berbudi pekerti luhur adalah harapan kita semua sebagai anak bangsa. Proses menuju pemantapan kepribadian merupakan upaya bersama semua komponen bangsa, khususnya proses pengembangan karakter dan daya saing pemuda adalah menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah dan masyarakat umumnya.

Sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini sangat banyak Pemuda Indonesia yang telah dibodohi oleh pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan fenomena organisasi kepemudaan yang semakin merosot kualitasnya. Sudah sangat jarang terdengar kawan-kawan muda yang berasal dari kalangan elite intelektual yang mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkesan tidak memihak pada kebutuhan rakyat kecil. Sangat sulit mencari forum-forum diskusi ilmiah dikalangan pemuda yang benar-benar muda, yang membahas permasalahan dan dinamika sosial dilingkungannya. Ironisnya lagi, banyak organisasi kepemudaan yang pengurusnya sudah tidak lagi muda (baca : tua) dan sangat tidak layak mengurusi organisasi kepemudaan.

Entah sengaja ataupun tidak, pemerintah (lembaga eksekutif) selaku pelaksana jalannya pemerintahan di Negara ini seolah tutup mata dan tidak mau ambil tahu tentang permasalahan yang sudah semakin kronis ini. Mestinya pemerintah dapat dengan segera melakukan kontrol yang ketat terhadap segala aktivitas yang mengatas-namakan pemuda atau kegiatan kepemudaan. Alangkah sangat disayangkan jika anggaran belanja untuk Pembinaan Kepemudaan cenderung diselewengkan untuk hal-hal yang tidak penting melalui kegiatan “organisasi kepemudaan abal-abal” yaitu organisasi yang menggunakan kata pemuda sebagai identitas organisasinya, akan tetapi isinya ataupun pengurusnya adalah orang-orang tua yang merasa muda dan tidak sadar diri bahwa ia sudah tidak lagi muda.

Fenomena tersebut semakin parah dan terus bertambah parah, karena ternyata banyak yang mengambil kesempatan dari amanah Undang-Undang Kepemudaan yang telah di syahkan beberapa tahun yang lalu. Banyak kegiatan kepemudaan di programkan oleh pemerintah, tetapi pelaksanaannya malah di monopoli oleh "oknum birokrat kanibal" yang dengan muka tebalnya menyelenggarakan pelatihan atas nama kepemudaan dan hanya menjadikan pemuda sebagai objek bisnis kegiatan meraka. Seharusnya kegiatan kepemudaan yang telah di anggarkan oleh pemerintah tersebut, diamanahkan kepada organisasi kepemudaan sebagai pelaksana kegiatan. Dengan demikian, pemuda yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat belajar dan memahami bagaimana cara seharusnya menjalankan mekanisme penyelenggaraan kegiatan.

Bagaimana mungkin pemuda di Negara ini bisa menjadi lebih maju dan memiliki kualitas handal, jika hal-hal kecil saja tidak pernah di-amanah-kan kepada mereka. Bagaimana mungkin pemuda kita bisa terbiasa berpikir maju, jika langkah meraka selalu di hambat, gerak mereka selalu di kekang oleh orang-orang tua tidak tahu diri yang selalu menganggap dirinya masih muda . . !!?!?

Generasi penerus dalam sebuah Negara harus di perhatikan, perkaderan merupakan salah satu jawaban konkrit dalam memberikan solusi bagi konsistensi masyarakat maju di sebuah Negara. Untuk itu, dibutuhkan individu-individu yang memiliki komitmen kuat dan rumusan pola perkaderan serta dukungan seluruh masyarakat dalam menjalankan serta mewariskan tujuan mulia Negara yang menjadi wadah bernaungnya selama ini. Sehingga kaum muda yang nantinya akan meneruskan estafet kepemimpinan memiliki pemahaman yang sama dalam menyikapi dan memandang tujuan Negara.

Anak yang sedang dalam proses tumbuh kembang tidak bisa di biarkan menjalaninya seorang diri. Ia butuh figur yang bisa menjadi panutan, agar perkembangan dan proses pembentukan jati dirinya tidak melenceng. Namun demikian, bukanlah suatu alasan agar kita tidak memberikan amanah dan tanggungjawab kepada anak (baca : generasi muda) untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Baik itu tanggungjawab dalam ruang lingkup besar maupun kecil.

Ada pepatah lama yang mengatakan "buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya" memang pembenaran akan hal itu sudah berlangsung lama di tengah kehidupan masyarakat kita selama ini. Tetapi kita juga telah lama melupakan hal yang jauh lebih penting dari itu semua. "buah yang tumbuh harus di jaga dan di rawat sejak ia berbentuk putik, diberi pupuk, diberi obat-obatan anti serangga dan di bungkus ketika buah mulai berbentuk. Kemudian ketika buah siap untuk di panen, haruslah di petik dengan cara yang benar. Agar tidak terjadi kerusakan pada buah tersebut dan kemudian buah yang akan tumbuh berikutnya memiliki tempat yang masih cukup baik untuk tumbuh dan berkembang".

Demikian pula halnya dengan pemuda kita sekarang, jika intelektualitas mereka senantiasa dijajah dengan pembodohan, tidak pernah diberi kesempatan berkreativitas, hanya diberi ceramah melalui seminar atau pelatihan di ruang sempit hotel-hotel mewah. Datang, duduk, pura-pura mendengar materi yang diberikan narasumber, sekedar bertanya untuk meningkatkan eksistensi diri yang malah mengarah kepada gangguan jiwa (narsisme), menenggak coffee break dan makan dengan lahap, tidur di kamar sejuk dan mandi dengan air hangat. Ditambah lagi setelah acara berakhir mereka disuguhi uang saku yang banyak.

Pernah suatu ketika, beberapa minggu yang lalu. Saya mengikuti pelatihan kepemudaan yang diselenggarakan oleh "birokrat". Pesertanya saya anggap "super muda" hahHaaaha!! Kenapa demikian? sebab yang hadir bersama saya di ruang pelatihan itu sudah layak saya panggil "om/tante". Karena ada beberapa peserta, yang umurnya lebih tua dari orang tua saya, kawan. (ini yang namanya pemuda?) saya bertanya didalam hati...

Mau jadi apa pemuda di negeri ini kalau terus-menerus seperti ini ??

Oleh karena itu, selayaknya pemerintah dan segenap unsur masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini secara bersama-sama dan bergandengan tangan turut serta melakukan kontrol terhadap kegiatan ataupun aktivitas yang sudah menyeleweng dari semangat kemerdekaan itu sendiri. Bagaimana mungkin kemajuan bagi masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang besar ini akan dapat terwujud, jika ternyata antar sesama rakyatnya masih saja menjalankan praktik penjajahan di berbagai bidang terhadap hajat hidup orang banyak.

Rabu, 28 Maret 2012

Bersama deras hujan . . .


langkahku terhenti, tiba-tiba tatapku terpaku
hujan telah menghentikan langkahku
seperti saat mentari pergi berlalu kala meninggalkanku
aku hanya bisa terpaku...

lalu angin yang berhembus kencang coba memberi harap padaku
bahwa hujan dapat berlalu dengan tiupan tiada henti
agar awan kelabu segera beranjak dari langitku
langit nan cerah membiru...

tapi ternyata, walau hujan telah berlalu
hingga kini mentari masih enggan menghangatkan hari-hariku
aku kembali terpaku, membisu...

kini aku menyadari bahwa mentari terlalu panas bagiku
ternyata yang aku butuhkan hanya perapian dari tungku batu
agar kehangatan itu tidak lagi pergi dari hidupku
hingga dingin hujan tidak lagi menusuk jiwaku...

kini..bersama deras hujan
aku menaruh harap pada takdirku, pada dirimu ~

Selasa, 27 Maret 2012

Tentang rembulan, dibalik awan kelabu . . .

rembulan redup meratap pilu
merintih . . memanggil awan malam nan kelabu
bahkan, angin malam seakan tuli
tak peduli akan harap rembulan yang mengambang diatas kepalaku

tahukah kau bidadariku
rembulan itu cemburu padamu
karena sekarang, aku lebih sering memikirkan dirimu disetiap waktuku

dari diriku . . .
yang merindukan-mu

Kamis, 08 Desember 2011

Membangun Karakter Pemuda Indonesia

Kondisi masa depan bangsa sangat bergantung pada kondisi kaum muda saat ini. Jika saat ini mereka kurang baik, kemungkinan akan tidak baik pula bangsa ini dimasa depan. Jika kualitas sumber daya manusia pemuda Indonesia lemah, maka di masa depan bangsa Indonesia pun harus siap kalah. Tetapi jika mereka (kaum muda) dapat tumbuh dan berkembang sebagai bibit unggul yang memiliki daya saing tinggi, maka bangsa ini mempunyai harapan untuk memiliki masa depan yang gemilang.

Proses tumbuh kembang menuju masa kanak-kanak memang terasa menyenangkan. Ketika bayi kita di timang, disayang dan dimanja. Hal inilah yang melenakan kesadaran yang baru saja hinggap. Sekejap saja, kita menyadari keberadaan diri kita. Perjalanan hidup yang berbunga-bunga tawa, tanpa beban dan tanpa tanggungan. Dunia anak-anak adalah dunia tawa, serta dunia awal yang begitu membius kita dalam kefanaan yang nyata. Hingga akhirnya, lahirlah kita sebagai si pelupa yang begitu senang tersenyum dan tertawa.

Pembentukan dasar di masa kanak-kanak inilah yang paling berkesan. Kelak, hal itulah yang menjadi identitas kita seumur hidup. Namun sayangnya proses awal tumbuh kembang kadang kala ada yang gagal dan prematur. Atau, pembentukan karakter yang belum sempurna dan hanya menyisakan sampah jiwa yang menyesak, dalam proses determinasi biologi dan sosial yang mengekang jiwa seorang anak. Ketidaknyamanan keluarga, keretakan hubungan kasih sayang, hancurnya cinta dan binasanya penerimaan akan menumpuk menjadi hutang yang tak pernah terbayarkan. Akibatnya, lahirlah calon-calon manusia yang gampang minder, berhati kaku, berwajah sendu dan bermata penuh masalah. hal ini diperparah lagi dengan keadaan lingkungan sosial yang dipenuhi oleh individu-individu hedonis. yaitu individu yang cenderung meniru kebudayaan barat yang liberal, berperilaku buruk dan tidak lagi sesuai dengan budaya bangsa yang santun.

Ketidakberdayaan untuk melunasi “hutang” pembangunan karakter tahap awal menancap dalam pikiran bawah sadar, sehingga menjadikan kita begitu rapuh dalam memilah dan memilih yang baik atau buruk dalam kehidupan pribadi. Kebekuan ini menjelma sebagai tembok besar penghalang bagi pencapaian misi hidup kita. Sungguh, tak ada yang mengesankan. Sehingga kita hanya bertindak sebagai penonton dalam kehidupan.

Begitulah adanya, karena tahap awal dari fase pembentukan karakter sengat menentukan jati diri kita pada tahap berikutnya. Apabila lingkungan keluarga, tetangga sekitar rumah, sekolah dan masyarakat mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang baik maka semuanya itu akan membaur dengan kepribadian kita yang utuh. Sebaliknya, keretakan dalam rumah tangga, tekanan lingkungan sekitar rumah, buruknya kenyamanan lingkungan sekolah dan rusaknya masyarakat sosial. Tentu akan merenggut suatu yang paling berharga dalam diri kita. Bahkan, hal itu akan menimbulkan penodaan terhadap citra diri. Akhirnya jadilah kita sebagai orang yang begitu labil, temperamental, tak berpendirian, rendah diri dan apatis.

Kota Batam, beberapa hari belakangan ini kembali digemparkan oleh berita yang luar biasa dahsyatnya. Bukan lagi mengenai aksi demonstrasi buruh yang menuntut upah kerja, tetapi karena pada hari sabtu (03/12) publik Kota Batam digoncang oleh berita pelajar yang menjadi germo. Kemudian berselang hari, bahkan hanya dalam hitungan jam saja. Minggu (04/12) Publik Kota Batam kembali di hebohkan oleh peristiwa diamankannya enam remaja korban trafficking di penginapan yang terletak dikawasan pelita - Batam, Oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kepulauan Riau. Kasus tersebut tentunya bukan yang pertama, kemungkinan masih banyak kasus serupa yang belum terungkap dan kemungkinan untuk kembali terjadi kasus serupa masih sangat besar jika pola hidup dan keadaan lingkungan di Kota Batam tidak segera di-benahi dengan baik.

Sungguh semua itu terasa sangat menyesakkan, lantas apa yang harus kita lakukan saat ini setelah semuanya terjadi? Tentunya waktu takbisa diputar ulang. Kita hanya bisa mendulang emas di antara kerikil dan pasir kehidupan masa lalu. Yakinlah bahwa proses yang penuh kesulitan hanya membutuhkan penataan yang apik. Bersikaplah wajar selayaknya orang dewasa yang beradab. Percayalah, masih ada waktu untuk memperbaiki diri.

Justru karena itu, pemuda perlu mendapatkan perhatian khusus dalam pembangunan bangsa. Pernyataan bahwa pemuda adalah pemimpin dan harapan masa depan bangsa tidak dapat di biarkan berhenti sebatas retorika saja. Mereka harus digarap dan dipersiapkan sejak saat ini, agar kelak benar-benar mampu tampil sebagai putra-putri pemimin bangsa yang handal dan mampu memenuhi harapan masa depan masyarakat.

Pemberdayaan pemuda perlu dilakukan dengan berbagai cara dan diberbagai sektor pembangunan, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat dan cerdas. Sehingga kelak dapat menjadi tokoh-tokoh masyarakat, pelaku bisnis dan dunia kerja yang berdaya saing tinggi, serta jujur dan mandiri untuk dapat membawa bangsa ke arah kejayaan, bukan ke arah keterpurukan.

Adalah tugas bersama pemerintah dan masyarakat untuk membina dan memberdayakan pemuda sejak saat ini, tidak hanya melalui lembaga pendidikan formal, tetapi juga lembaga pendidikan non formal. Tidak hanya melalui keluarga, tetapi juga melalui lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dan kepemudaan yang ada. Jangan salahkan pemuda yang tidak siap menghadapi masa depan, jika kita tidak pernah membina dan memberdayakan mereka secara maksimal. Jangan salahkan pemuda jika kelak mereka tidak siap memimpin bangsa, karena kita tidak mempersiapkan dan memberi kesempatan pada mereka untuk belajar memimpin sejak sekarang.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2009 tentang kepemudaan, dengan sangat jelas telah mengamanahkan kepada kita semua. Agar dengan segera melakukan perubahan di ranah kehidupan pemuda. Semua pihak harus mengambil peran dengan maksimal, agar tujuan mulia yang tertuang didalam Undang-Undang tersebut dapat tercapai dengan optimal. Akan halnya pemerintah, yang didalam hal ini adalah Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (ditingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota) harus melaksanakan perannya dalam melaksanakan pembangunan kepemudaan. Melaksanakan penyadaran, pemberdayaan, dan pengembangan potensi kepemimpinan, kewirausahaan, serta kepeloporan pemuda dalam segala aspek kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Semoga Pemerintah Daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten/Kota yang selama ini tampak kurang memberikan perhatian terhadap pembinaan dan pembangunan kepemudaan. Akan semakin terbuka mata dan hati para pejabatnya agar dengan segera melakukan perubahan. Karena pembangunan kepemudaan harus dilakukan dengan apik, haruslah dirancang dengan seksama. Bukan berdasarkan program pragmatis yang lahir dari sifat dan perilaku hedonis yang lebih mengedepankan nilai hiburan dari pada bentuk edukasinya.

Semoga di tahun-tahun berikutnya, pejabat pemerintahan di negeri ini lebih senang menghadiri acara dan kegiatan yang bersifat edukasi yang diselenggarakan oleh pemuda. Dari pada menghadiri kegiatan-kegiatan hedonis yang bersifat hura-hura dan bertentangan dengan budaya bangsa melayu yang senantiasa menjaga sopan santun dalam bertutur kata, sopan santun dalam berpakaian, dan sopan santun dalam berperilaku. Karena dengan demikian, pemuda-pemuda yang hadir di acara tersebut akan merasakan kasih sayang yang diberikan oleh pemimpin mereka. Kemudian mereka (baca : pemuda) akan termotifasi untuk hidup seperti pemimpin mereka yang penuh dengan perhatian, mereka lebih bersemangat untuk menuntut ilmu pengetahuan, agar suatu ketika nanti dapat hidup seperti pemimpin mereka.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa lewat jasa pemudalah roda sejarah bangsa ini berputar, di tangan merekalah visi kebangsaan ini terbentuk dan di pundak mereka juga diletakkan tanggung jawab berat memikul persoalan-persoalan kebangsaan. Dalam perspektif demokrasi, gerakan pemuda, terutama yang terhimpun dalam organisasi sosial-kemasyarakatan merupakan pilar dari civil society. Sebagai pilar civil society, kaum muda menjalankan peran-peran positif, terutama dalam konteks perubahan yang tengah berlangsung dalam masyarakat.

Peran pemuda dalam konteks perubahan sosial-politik menjadi semakin penting karena ia mampu memainkan peran-peran positif sesuai dengan kemampuan dan profesionalismenya. Dalam konteks ini, gerakan pemuda yang termanifestasikan dalam gerakan pemuda terpelajar di Indonesia memiliki andil yang cukup besar sebagai aktor perubahan. Di dalam struktur sosial-politik yang tengah berubah, peran pergerakan sangat strategis sebagai aktor penggerak perubahan tersebut.

Sejarah nasional telah membuktikan bahwa pemuda merupakan penggerak roda sejarah yang mampu membawa masyarakat pribumi yang tertindas menuju cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya. Bangsa ini lepas dari cengkeraman kolonial karena jasa kaum muda. Secara signifikan, pemuda akan terus melakukan transformasi konstruktif atas pranata sosial-kemasyarakatan secara luas dalam rangka memajukan kehidupan demokrasi. Catatan sejarah gerakan kepemudaan di Indonesia sudah membuktikannya. Bahkan, para pemuda (gerakan mahasiswa) sangat signifikan dalam mendorong proses perpolitikan di tanah air, penegakan hukum, transparansi dan pertanggungjawaban di semua lini kehidupan. Tugas pemuda adalah memikirkan kepentingan umum demi menjaga agar pranata-pranata yang telah terbentuk tidak menyimpang dari tujuannya. Disitulah arti peran pemuda yang dapat menciptakan mekanisme check and balance.


Oleh : Cris Topan, AMK

Presidium Garuda Muda Indonesia Kepulauan Riau (Alumni Training Of Trainer Pelatihan Pengembangan Karakter Pemuda Indonesia Tingkat Nasional, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Tahun - 2010).