Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Agustus 2013

Negeriku Kini

Bismillahirrahmaanirrahiim
Dari sudut kelabu ruang karantina kurangkai asa
Hatiku gundah
Sebab negeriku kumuh, busuk !!
Bukan, bukan kumuh karena sampah
Bukan pula busuk karena kotoran
Tapi . . .
Negeriku kini dipenuhi kemunafikan
Negeri melayu ini, kotor karena kebohongan
Pemimpin negeri lupa amanah
Generasi pengganti kehilangan arah
Adat istiadat tak lagi diperdulikan
Petuah orangtua dianggap candaan
Teman berbuat baik ditertawakan
Berbuat buruk menjadi kebanggaan
Katanya . . .
Tidak merokok tak gaul
Tidak dugem enggak asik
Topi miring, jack daniel dan chivass
Dijadikan pengganti dzikir
Sementara ekstasi, sabu dan cimeng
Seakan cemilan . . .
Bangga?
Kau bangga?!??
Mestinya waktu yang singkat ini tidak kau sia-siakan
Tidak perlu lah kita merusak diri, ukir prestasi
Itu yang dibutuhkan

Nilam suri
Sebelas hari bulan juni
Tahun dua ribu tiga belas

Dibacakan pada Pagelaran Seni Kampus se Kepulauan Riau, BNNP KEPRI, di Mega Mall Batam Centre, Minggu, 15/6/2013

Selasa, 20 November 2012

Pahlawan-Pahlawan Siang

Aku diterpa badai yang menggila
Gelombang besar setinggi gunung meluluh-lantakkan biduk kertasku
Tiada tempat berlindung, tak kutahu tempat mengadu
Hanya keyakinan yang masih tersisa
sebab, perbekalanku pun telah tiada
Hanyut, tercampakkan . . .

Kabar burung yang kudengar
Katanya, didaratan sana, banyak yang berteriak, bersuara!
Jangan apatis, jangan jadi pengecut!
Jangan abaikan saudara kita yang dilanda bencana!
Mari kita bantu dia yang dilanda badai
Mari kita tolong bersama-sama

Benarkah? Benarkah itu, kawan?
Tapi mana?! Kenapa mereka tak kunjung tiba?

Rabu, 28 Maret 2012

Bersama deras hujan . . .


langkahku terhenti, tiba-tiba tatapku terpaku
hujan telah menghentikan langkahku
seperti saat mentari pergi berlalu kala meninggalkanku
aku hanya bisa terpaku...

lalu angin yang berhembus kencang coba memberi harap padaku
bahwa hujan dapat berlalu dengan tiupan tiada henti
agar awan kelabu segera beranjak dari langitku
langit nan cerah membiru...

tapi ternyata, walau hujan telah berlalu
hingga kini mentari masih enggan menghangatkan hari-hariku
aku kembali terpaku, membisu...

kini aku menyadari bahwa mentari terlalu panas bagiku
ternyata yang aku butuhkan hanya perapian dari tungku batu
agar kehangatan itu tidak lagi pergi dari hidupku
hingga dingin hujan tidak lagi menusuk jiwaku...

kini..bersama deras hujan
aku menaruh harap pada takdirku, pada dirimu ~

Selasa, 27 Maret 2012

Tentang rembulan, dibalik awan kelabu . . .

rembulan redup meratap pilu
merintih . . memanggil awan malam nan kelabu
bahkan, angin malam seakan tuli
tak peduli akan harap rembulan yang mengambang diatas kepalaku

tahukah kau bidadariku
rembulan itu cemburu padamu
karena sekarang, aku lebih sering memikirkan dirimu disetiap waktuku

dari diriku . . .
yang merindukan-mu