Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Februari 2016

Tolong Menolong

Mengalami kesulitan adalah risiko yang harus dirasakan saat kita memberanikan diri untuk menolong orang lain, terkadang bukan saja kesulitan fisik, tekanan batin pun harus rela diterima dengan lapang dada. Bahkan tidak jarang, kita pula yang harus memikul penderitaan lebih setelah kita menolong orang lain. Sukur-sukur dapat ucapan terima kasih dan perlakuan baik setelah kita memberikan pertolongan, pada kenyataannya, terkadang justru lebih sering kita mendapatkan sindiran, tatapan sinis dan wajah masam yang harus kita hadapi setiap hari, luar biasa!! Laa hawla wala kuwwata illabillahil'aliiyil adziim. Kuatkan diri kami Ya Rabbi, jagalah hati dan keyakinan kami agar tetap dalam Iman dan Islam. Aamiin 99x

Manusia sebagai makhluk sosial perlu hidup saling tolong menolong, kita sadari itu. Terkadang ada masa kita butuh pertolongan dari orang lain, kemudian ada pula masanya kita harus menolong orang yang membutuhkan pertolongan kita, apalagi jika kita mampu untuk melakukannya.

Menolong dapat kita pahami sebagai upaya yang didasari oleh kesadaran dan rasa tanggungjawab, tidak perlu diminta. Menolong itu adalah perbuatan mulia, tentu saja dalam konteks menolong untuk sebuah kebaikan. Namun demikian, tidak semua orang sanggup melakukannya. Meski tidak dapat disimpulkan bahwa upaya memberikan pertolongan sebagai upaya yang berat, sulit, sukar untuk dilakukan. Tergantung dari mana dan bagai mana cara kita memandangnya, persepsi kita terkadang memang berbeda, tergantung pada kualitas kita sebagai manusia. Justru karena itulah, tidak semua orang sanggup untuk melakukannya.

Hanya orang yang berhati bersih dan ikhlas, yang menyadari bahwa keberadaannya di muka bumi ini dan apa yang dimilikinya hari ini, baik nafas, tenaga, kemampuan berpikir, ilmu pengetahuan, harta maupun jabatan, hanyalah sebagai titipan, sebagai sebuah kesempatan untuk beramal, berbuat baik dan menjalankan tugas dari sang pencipta terhadap sesama makhluk ciptaan yang hidup di muka bumi untuk menjadi bekal yang akan dibawa kelak di akhirat, yang akan sanggup melakukannya.

Apalagi jika kita sudah mengetahui persoalan yang sedang dihadapi dan mampu untuk memberikan pertolongan bagi orang lain yang membutuhkan pertolongan kita, tanpa diminta dan menunggu orang tersebut menengadahkan tangan kepada kita, mestinya kita sigap untuk memberikan pertolongan.

Tanpa kita sadari, terkadang satu persoalan yang kita anggap kecil, masalah sepele yang tidak dapat dihadapi oleh seseorang, justru berdampak besar terhadap diri individu maupun bagi orang banyak di lingkungan sosialnya. Keberadaan kita yang berdiam diri, mengulur-ulur waktu, padahal mampu untuk memberikan solusi segera terhadap masalah yang dihadapi oleh orang lain, tanpa kita sadari justru menjadi bagian besar penyebab problematika sosial di lingkungan kita.

Beberapa tahun terakhir, banyak bermunculan orang berlatar belakang pendidikan, profesi dan kelompok tertentu, yang dengan modal segenggam kata mutiara pemanis lidah menebar janji di mana-mana untuk menarik perhatian, hadir di antara kita, berkata dan berbuat seolah-olah akan menolong kita. Fenomena ini muncul tentu karena adanya sebab, tidak hadir begitu saja. Tidak dapat dipungkiri, ada tujuan memperoleh keuntungan materi terselip di situ.

Tidak cukup berhenti di situ saja, kemudian bermunculan banyak motif dan bentuk berbeda namun dengan tujuan yang sama, dengan meniru cara dan gaya serupa mereka menipu untuk memperoleh keuntungan ekonomi dan kenaikan derajat sosial. Untuk mencapai tujuan itu, tidak sedikit tipu muslihat dilakukan, bahkan tidak menutup kemungkinan orang terdekat pun akan dikorbankan.

Hal seperti ini mungkin tidak terlalu menarik bagi kita, tipu muslihat mungkin sudah biasa terjadi disekitar kita, pengorbanan kecil yang dilakukan orang lain untuk menolong kita mungkin tidak membawa makna lebih bagi diri kita, namun hal seperti itu bisa saja menjadi penyebab masalah besar yang suatu hari nanti harus kita hadapi tanpa terduga.

Dalam memberikan upaya pertolongan mestinya benar-benar karena didasari oleh kesadaran dan rasa tanggungjawab, sebagai manusia yang tidak bisa hidup sendirian, mestinya kita sadari itu. Sebagai orang yang pernah menerima pertolongan, rasanya sangat tidak pantas jika kita terlalu menghitung-hitung materi, berdiam diri, menunda-nunda dan membiarkan orang yang pernah menolong kita dengan bersungguh-sungguh, merasakan kesusahannya sendiri. Apalagi jika kita ternyata mampu dan tidak ada halangan untuk memberikan pertolongan.

Terkadang bagi sebagian orang yang kukuh menjaga harga diri, meminta pertolongan kepada sesama manusia disaat ia sedang mengalami kesulitan adalah hal yang sangat memalukan, takut dianggap lemah, manja, dan tidak mandiri. Meski disaat itu ia sedang sangat membutuhkan pertolongan. Pada saat seperti ini lah, uluran tangan kita yang mampu dan menyadari kesulitan orang lain sangat berarti kehadirannya. Semoga kita diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk dapat menolong orang lain...

Kamis, 08 Januari 2015

Kabar Merugi Para Penipu

Kata Bijak : "Saat anda melakukan muslihat terhadap orang lain, percayalah, bahwa sebenarnya anda yang akan merugi karenanya".

Banyak referensi lain yang akan menunjang dan membenarkan kata-kata di atas, tapi kita tidak sedang dan juga tidak akan membahasnya panjang lebar. Kita tidak perlu lakukan itu, sebab yang penting dan harus segera dilakukan terhadap para penipu yang memuslihati dan mengkhianati anda, adalah membuktikan kebenaran kata bijak itu. Buktikan bahwa mereka akan merugi karena telah menzalimi diri anda.

Berjanji itu gampang, semua orang bisa melakukannya. Tetapi hanya orang yang berintegritas baik, amanah dan istiqomah yang akan mampu menepati janjinya, dan kemudian hanya orang seperti itu lah yang layak untuk tetap kita pertahankan agar senantiasa ada di sisi kita.

Lalu bagai mana dengan si penipu? Bagi saya, kesempatan untuk orang dengan karakter penipu, cukup diberikan dua kali.

Pertama, saat teman anda menipu dan melakukan muslihat terhadap diri anda, bersabarlah, tetaplah ada bersamanya dan ingatkan bahwa menepati janji yang disampaikan itu adalah lebih baik dari pada mengingkarinya.

Kedua, saat dia kembali ingkar janji dan menipu anda, maka anda harus mulai menjaga jarak, komunikasi secukupnya saja, tidak perlu terlalu ditanggapi. Ingatlah, bahwa anda perlu hidup sukses, tapi tidak butuh ditipu.

Orang penipu seperti itu pun tidak perlu dimusuhi, biarkan saja tetap ada. Anggap saja timun bungkuk yang fungsinya hanya sebagai pelengkap, tidak perlu masuk dalam hitungan. Jadikan ia sakasi hidup (kalaupun masih mampu bertahan hidup), untuk menyaksikan betapa anda layak menjadi teman baik yang sangat menghargai komitmen.

Kabar merugi bagi para penipu tidak perlu disampaikan dengan ucapan, tapi dengan pembuktian, kawan. Pastikan itu . . .

Minggu, 28 Desember 2014

Nasi Goreng dan Manajemen Organisasi Kekinian

Nasi goreng . . .

Dari nama itu, tentu anda yang orang Indonesia sudah sangat familiar. Menu satu ini biasanya akan menjadi santapan pertama anda mengawali aktivitas sehari-hari. Lalu, apa hubungannya dengan manajemen organisasi? Nanti akan saya ceritakan. Sekarang, mari kita bahas "nasi goreng" terlebih dahulu.

Ketika anda mendapat hidangan nasi goreng, yang terlihat pertama kali, tentu adalah bentuknya yang campur aduk di dalam piring makan anda. Namun demikian, aromanya yang khas dan rasanya yang lezat, akan membuat anda mengabaikan tampilannya yang campur aduk. Ya, seperti itu lah Indonesia. Campur-aduk, beraneka ragam, tetapi berpadu serasi seperti nasi goreng.

Untuk membuat nasi goreng yang khas Indonesia, anda harus tahu cara memadupadankan bahan dan bumbu dengan takaran yang pas. Berapa tingkat panas yang dibutuhkan dari kompor di dapur anda, dan berapa lama anda harus mengolahnya. Jika tidak pandai, maka anda tidak akan mendapatkan hasil olahan yang nikmat, campuran bumbu dan bahan yang anda olah, hanya akan menghasilkan nasi goreng yang tidak dapat diterima lidah dan perut orang lain, bahkan jika harus jujur, anda sendiri akan menolak untuk memakannya.

Karenanya, untuk membuat nasi goreng yang nikmat ala Indonesia, anda harus belajar dengan orang yang pandai, banyak-banyak melihat, banyak-banyak mendengar dan belajar mempraktekkannya hingga anda mahir dan mampu mengolah nasi goreng yang dapat dinikmati oleh lidah anda dan orang banyak.

Manajemen organisasi kekinian . . .

Dalam bukunya yang berjudul “The Management Theory Jungle” Harold Koontz, menganggap pengertian manajemen adalah seni menyelesaikan suatu pekerjaan melalui dan dengan beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok formal yang terorganisir.

Dalam bahasa Yunani, organisasi disebut ὄργανον, organon, yang artinya suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisis organisasi (organization analysis).

Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok satu sama lain, dan ada pula yang berbeda. Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah bagi orang-orang untuk berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Namun demikian, sekarang ini teori manajemen organisasi itu, tidak lagi dapat diartikan secara harfiah, gamblang dan kaku. Hari ini, organisasi dan manajemen organisasi digunakan tidak lagi sekedar untuk mencapai tujuan bersama, harus kita akui itu.

Rasulullah S.A.W. bersabda "Bergembiralah dan harapkanlah apa-apa yang menyenangkan kalian. Maka, demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Akan tetapi, aku khawatir akan dibentangkan dunia atas kalian sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba kepadanya sebagaimana mereka yang berlomba-lomba kepadanya. Lalu, dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka". (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak sedikit orang dengan ambisi dan syahwat kekuasaan berlebih yang menggunakan organisasi sebagai ajang pelampiasan nafsu. Mengejar ketenaran dunia dengan memiliki jabatan tinggi, mengumpul kekayaan, dan mengintai kesempatan-kesempatan strategis untuk berbuat memenuhi syahwat kuasanya yang tinggi.

Demi mendapatkan kuasa jabatan, tidak segan menggunakan cara buruk. Memakai jabatan untuk mengintimidasi, menghalangi orang lain dengan berbagai cara agar tidak maju bersaing dengan dirinya, bahkan ada yang berani membayar untuk mendapatkan jabatan. Padahal tanpa disadari, ia sedang berlari melompat ke dalam jurang batu terjal yang akan membinasakan dirinya sendiri.

Individu dengan syahwat kuasa berlebih seperti itu, biasanya cuma pandai bicara, kering visi kepemimpinan, ia tidak akan mampu menjalankan amanah kuasa. Anggota organisasi akan terabaikan, dan tujuan organisasi tidak tercapai dan cenderung menjadi hilang arah.

Orang yang rakus dengan harta kekayaan, jabatan dan segala fasilitas serta kesempatan-kesempatan yang dapat dilakukan dengan harta dan jabatan yang dimiliki, terkadang menganggap diri sudah memiliki materi harta dan jabatan yang lebih dari pada yang lainnya, lupa aturan, dan bertindak sesuka perutnya saja.

Dengan mudah ia akan menilai orang lain rendah dan tidak bisa berbuat apa-apa, padahal semua orang sudah ada bagiannya masing-masing, kemampuan seseorang mencapai tujuan tidak akan terbatas hanya karena ia lemah dari segi finansial.

Tidak sedikit pula contoh konkret orang gagal dan menjadi nista, karena lalai dan ingkar pada amanah kuasa kecil yang dititipkan orang lain kepadanya. Di Negara kita Indonesia, sudah tercatat dan tergambar jelas dan tegas, petinggi organisasi yang awalnya mulia dengan jabatan dan kata-katanya, menjadi nista karena perbuatannya yang tidak amanah, tidak jujur, dan terlalu mendahulukan syahwat kuasa dari pada berbuat jujur dan megayomi orang yang dipimpinnya.

Kita diminta untuk belajar lebih dari pengalaman terdahulu, baik yang telah terjadi pada diri kita pribadi, di lingkungan kita, atau pada catatan sejarah, kisah yang telah terjadi pada orang-orang sebelum kita ada.

Lalu, apa hubungannya dengan "nasi goreng"?

Seperti nasi goreng, anda tidak boleh mengolahnya secara kurang atau berlebihan, bumbu dan bahan yang anda olah harus sesuai dengan takaran dan ketentuan. Kalaupun anda ingin bereksperimen membuat cita rasa baru, harus anda lakukan di dapur pribadi, tidak untuk dihidangkan di meja tamu. Karena jika tidak, bukan saja nasi goreng yang anda hasilkan tidak bisa dinikmati, bahkan anda sendiri akan menjadi malu, karena menghidangkan menu nasi goreng yang tidak sedap.

Demikian pula halnya dengan organisasi, manajemen organisasi harus berjalan sesuai dengan ketentuan yang sudah ada, organisasi yang kita pimpin tidak bisa dijalankan sesuka perut kita saja, sebab ada kepentingan orang banyak yang beraneka ragam yang ingin dicapai bersama melalui organisasi, ada ketentuan dan aturan yang harus diikuti dengan baik, kalau pun harus berubah, ada tempat dan masanya untuk merubah. Maka dengan demikian, anda akan terhindar dari kesalahan-kesalahan yang akan merusak dan menghancurkan diri anda sendiri.

Sabtu, 19 Juli 2014

Mental Pemulung Orang-Orang Terdidik

Jalan Garuda #36
Tombak pusaka, senjata pamungkas seorang ksatria, hanya akan menjadi alat pengais sampah di tangan seorang pemulung . . .

Kembali berpikir lebih dalam tentang amanah pengetahuan, dan kesempatan mengemban jabatan di lingkungan sosial, di antara kita. Mungkin catatan di atas, yang saya buat untuk mengawali tulisan ini, agak sedikit menggelitik minat berpikir saudara. Mari kita telaah lebih jauh, semampu saya berpikir tentunya.

Tombak merupakan senjata yang identik dengan perlengkapan perang, dahulu, sebelum kita mengenal senjata canggih seperti sekarang ini. Selain pedang, pisau, badik, dan panah, tombak kerap digunakan pada perang tradisional. Sekarang ini, tombak mungkin hanya dipakai untuk berburu babi hutan dan pada perlombaan olahraga saja.

Lalu apa hubungannya antara tombak dengan pemulung?
Apakah pemulung menggunakan tombak untuk bekerja?

Tentu saja pemulung tidak menggunakan tombak untuk bekerja, bisa ditangkap petugas keamanan lingkungan kalau ada pemulung yang membawa tombak kemana-mana. Hahhaha!! Tapi dalam hal ini, kita tidak sedang menggiring opini ke arah tersebut. Saya hanya membuat sebuah kemungkinan, andai seorang pemulung menemukan sebuah tombak di tempat sampah. Tentu tombak tersebut tidak akan dipergunakan untuk berperang, atau berburu babi, sebab babi hanya ada di kampung yang hutannya masih lebat, tidak mungkin ada pemulung di kampung-kampung seperti itu. Negara kita pun masih aman, tidak ada perang.

Pemulung pun tidak akan mungkin ikut di perlombaan olahraga cabang lempar lembing, apa mungkin ada kesempatan seperti itu? Kecil kemungkinannya. Nah, karena itu, tentu tombak yang didapatkannya bisa jadi akan dipatahkan matanya, diambil kayu gagangnya, kemudian dijadikan tongkat pengais sampah. Besar kemungkinan akan dipergunakan untuk hal itu.

Demikian pula halnya dengan amanah ilmu pengetahuan dan kesempatan mengemban jabatan, yang diperoleh oleh seorang individu bermental pemulung. Besar kemungkinan ilmu pengetahuan dan jabatan yang dimilikinya tidak akan bermanfaat lebih, hanya dipergunakan untuk kepentingan perutnya saja, sekedar untuk membanggakan diri. Tidak untuk manfaat lebih besar yang berdampak baik, bagi orang banyak.

Biasanya, individu-individu seperti itu (baca : bermental pemulung), tidak mampu berpikir kreatif, tidak punya visi dan gagasan besar, tidak visioner. Mereka senang menunggu, menanti kesempatan baik datang menghampiri, tidak berani berbuat. Padahal sebagai individu yang memiliki ilmu pengetahuan baik, apalagi yang telah mendapatkan amanah jabatan, mestinya lebih banyak berpikir, lebih gigih bergerak, lebih berani berbuat untuk kebaikan diri, keluarga dan orang banyak di sekelilingnya, yang dengan kesungguhan hati dan harapan besar, menitipkan amanah kepadanya.

Catatan ini saya tuliskan bukan untuk menghujat anda, yang berkenan membaca. Tidak, bukan seperti itu kawan. Saya hanya sekedar mengingatkan diri ini, dan mungkin anda yang berkenan menjadikan tulisan saya ini sebagai bahan introspeksi diri, seperti yang saya lakukan sekarang ini. Berpikir, kembali mengingat, apakah diri ini yang telah memiliki ilmu pengetahuan dan diberi amanah jabatan, sudah berpikir, bergerak, berbuat sesuai dengan yang semestinya. Atau masih berlaku seperti seorang pemulung sampah!?!!

Mohon maaf jika sekiranya tidak berkenan . . .
Terima kasih telah berkenan membaca

Minggu, 20 Mei 2012

Semangat Kebangkitan Pemuda Melayu

Apalah tanda batang putat
Batang putat bersegi buahnya
Apalah tanda orang beradat
Orang beradat tinggi marwahnya

 
Bahagianya hati ini, kami yang terlahir dan besar di tanah melayu. Membuat proses tumbuh-kembang pribadi kami menjadi kuat, menjadi pribadi pemuda yang kokoh dan senantiasa ingin belajar dan memperbaiki diri untuk menjadi generasi baru, yang nantinya akan meneruskan tampuk kepemimpinan Bangsa Melayu di Negeri kita yang besar ini. Tidak sedang menyombongkan diri, atau melebihkan eksistensi anak-anak Bangsa Melayu. Tetapi memang demikianlah adanya, kami tumbuh dan berkembang bersama di kehidupan Islami yang telah ter-metamorfosa di dalam adat yang menjadi warna indah dalam keseharian kami. Sampai kapan-pun, selama masih ada bujang-dara melayu yang mencintai budayanya dan menjalani hidup berdasarkan Adat Melayu yang bersandikan Syara' dan Syara' yang bersandikan Kitabullah. Maka selama itu pula Negeri Melayu ini akan terjaga ketentramannya. Kenapa demikian? tentunya kami tidak asal bicara. Masih ingatkah kawan dengan "Gurindam Dua Belas, Gubahan Raja Ali Haji" yang merupakan karya sastra tinggi itu? Disana dimuat nasihat-nasihat tentang kehidupan yang sangat dalam maknanya. Demikianlah gambaran adat Bangsa Melayu yang senantiasa berpedoman pada Kitabullah.

Berkaca dari pencapaian generasi pendahulu yang telah mengukir sejarah dalam mempersatukan Negara Indonesia. yang dimulai dari sebelum kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bangsa Melayu telah pun memberi kontribusi besar dalam usaha mempersatukan kita. Saat Bahasa Melayu kemudian menjadi benih dari lahirnya Bahasa Indonesia. Yang mempersatukan banyak suku dan keanekaragaman budaya dan bahasanya di Negara kita yang besar ini. Bahkan sampai dengan sekarang, saat Negara kita telah merdeka. Bangsa Melayu masih saja memberi kontribusi yang tidak sedikit bagi pembangunan Bangsa Indonesia. Betapa tidak!? Kekayaan alam berupa hasil laut, pertanian dan hutan lindung yang dirambah sedemikian rupa, kemudian sumber daya mineral yang disedot dari bumi Negeri Melayu ini, untuk dijadikan pendapatan Negara, tentunya tidak dapat dipandang sebelah mata oleh siapapun yang menghirup udara kebebasan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tetapi, meski pun demikian, ternyata masih banyak ketimpangan dan kezaliman yang diterima oleh anak keturunan Bangsa Melayu dari pemerintah yang seharusnya mengayomi kami sebagai Anak Bangsa, dengan cara yang terhormat pula. Bukannya menampikkan keberadaan kami, dengan menetapkan aturan-aturan yang malah membuat kami sengsara dalam menjalankan hidup di Negara ini.


Jika kita tidak bergalah
Jangan takut membentang kajang
Jika kita tidak bersalah
Jangan takut ditentang orang


Memang, kami senantiasa dinasihati oleh orangtua kami untuk senantiasa berbuat baik tanpa mengharap imbal jasa. Itu pun telah kami lakukan sedemikian rupa dalam kehidupan kami sehari-hari. Tetapi hal itu tentunya tidak dapat dijadikan alasan agar kami hanya berdiam diri, tanpa berikhtiar dalam menuntut keadilan dari kebijakan pemerintah yang menjalankan amanah yang telah kami percayakan selama ini.

Sungguh sangat besar harap dan asa yang kami impikan, sebagai anak Bangsa Melayu yang berada di perantauan dan menjalankan sunnah peradaban dengan menuntut ilmu pengetahuan. Apalagi jika mengingat marwah Bangsa Melayu yang akhir-akhir ini sudah semakin tercoreng oleh perbuatan oknum beberapa Pemimpin Negeri, harap dan asa itu seakan menggelegak, memanas. Karena ke-tidak-ikhlas-an kami terhadap perilaku destruktif yang dipertontonkan oleh orang-orang yang semestinya mengajarkan hal baik kepada generasi muda, orang-orang yang seharusnya menjadi figur yang dapat di tiru perilakunya sebagai Wakil Rakyat.

Begitulah kiranya, Forum Komunikasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Riau (FORKOM IPEMARI) se Indonesia. Yang merupakan organisasi pengampu amanah kaum terpelajar (mahasiswa) asal Riau yang menuntut ilmu pengetahuan diluar Provinsi Riau. Sebagai wadah silaturrahmi dari seluruh Organisasi Pelajar Mahasiswa Riau di seluruh Indonesia, FORKOM IPEMARI senantiasa mencoba memberi andil dalam dinamika sosial yang berlangsung di Provinsi Riau, maupun di tingkat Nasional.

Banyak agenda besar Riau yang selayaknya kita perhatikan bersama, penyelenggaraan PON XVIII tahun 2012 ini, misalnya. Selain sebagai hajatan Nasional para olahragawan se Indonesia, kegiatan ini juga dapat mengangkat Marwah Bangsa Melayu di mata masyarakat awam lainnya. Namun sayang, belum lagi hajatan besar ini terselenggara, namun cobaan dan rintangan sudah lebih dahulu menghampiri dan coba menggoda ketabahan panitia penyelenggara kegiatan. Misalnya, kasus suap penetapan anggaran PON XVIII tahun 2012 di Riau, yang sekarang sedang dalam proses penyidikan. Sungguh, semua itu terasa sangat menyesakkan. Lantas apa yang harus kita lakukan saat ini, setelah semuanya berlalu? Tentunya waktu takbisa diputar ulang. Kita hanya bisa mendulang emas di antara kerikil dan pasir kehidupan masa lalu. Yakinlah bahwa proses yang penuh kesulitan hanya membutuhkan penataan yang apik. Bersikaplah wajar selayaknya orang dewasa yang beradab. untuk mengubah semuanya, tentu bukan hal yang mustahil. Percayalah, masih ada waktu untuk berbenah dan memperbaiki.


Apalah tanda padi berbuah
Lebatlah tangkai daunnya subur
Apalah tanda negeri bertuah
Rakyatnya damai hidupnya makmur


Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang direbut dengan darah pejuang, tentu harus di isi dengan pembangunan segenap lapisan masyarakat, termasuk pemuda. Agar Bangsa Indonesia dapat tumbuh sebagai Bangsa yang kuat serta mampu bersaing dengan Bangsa-bangsa lain di kancah pergaulan internasional, sehingga Bangsa ini tidak kembali terjajah. Mendiang mantan Presiden pertama Indonesia (Bung Karno), pernah berpesan, bahwa penjajahan akan terus ada di muka bumi dalam berbagai bentuk imperialisme baru. Mulai dari imperialisme ekonomi hingga imperialisme politik dan budaya. Bangsa yang kuat akan cenderung menjajah yang lemah dan Negara yang lemah akan cenderung takluk dalam genggaman Negara adikuasa. Karenanya, dalam menghadapi berbagai bentuk imperialisme baru. Maka, memandirikan Bangsa agar tetap dapat terus berdiri sama tegak dan duduk sama datar (sederajat) dengan Bangsa-bangsa lain di dunia. Adalah bentuk perjuangan nyata di era kemerdekaan. Bukan dengan senjata, tetapi dengan keunggulan dan kemampuan bersaing dengan Bangsa-bangsa lain di dunia.

Karena kehidupan dan kematian terus berlalu, yang kini hidup kelak akan mati dan di gantikan oleh yang kini masih muda. Maka perjuangan itu mesti diteruskan dalam estafet yang tiada henti. Jelas, bahwa bakal penerus estafet perjuangan Bangsa itu adalah generasi muda. Pemuda adalah harapan masa depan Bangsa, kata-kata tersebut tentunya bukan sekedar retorika untuk melebih-lebihkan peran pemuda. Sebab di tangan pemudalah masa depan Bangsa berada. Ketika para pemegang tampuk pemerintahan kelak pensiun, ketika para eksekutif dan professional kelak uzur, ketika para entrepreneur kelak menjadi tua, ketika para pemuka adat sudah tidak lagi sanggup mengingat perjalanan sejarah dan ketika guru sudah tidak sanggup lagi melihat huruf-huruf yang terangkai di dalam sebuah buku. Maka para pemudalah yang nantinya akan menggantikan mereka. “kami tidak lagi bisa berkata kaulah sekarang yang berkata. Teruskan, teruskan jiwa kami” kata Chairil Anwar.

Kondisi masa depan Bangsa sangat bergantung pada kondisi kaum muda saat ini. Jika saat ini mereka kurang baik, kemungkinan akan tidak baik pula Bangsa ini dimasa depan. Jika kualitas Sumber Daya Manusia Pemuda Indonesia lemah, maka di masa depan, Bangsa Indonesia pun harus siap kalah. Tetapi jika mereka (kaum muda) dapat tumbuh dan berkembang sebagai bibit unggul yang memiliki daya saing tinggi, maka Bangsa ini mempunyai harapan untuk memiliki masa depan yang gemilang.

Justru karena itu, pemuda perlu mendapatkan perhatian khusus dalam pembangunan Bangsa. Pernyataan bahwa pemuda adalah pemimpin dan harapan masa depan Bangsa tidak dapat di biarkan berhenti sebatas retorika saja. Mereka harus digarap dan dipersiapkan sejak saat ini, agar kelak benar-benar mampu tampil sebagai putra-putri pemimin Bangsa yang handal dan mampu memenuhi harapan masa depan masyarakat. Pemberdayaan pemuda perlu dilakukan dengan berbagai cara dan di berbagai sektor pembangunan, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat dan cerdas. Sehingga kelak dapat menjadi tokoh-tokoh masyarakat, pelaku bisnis dan dunia kerja yang berdaya saing tinggi, serta jujur dan mandiri, untuk dapat membawa Bangsa ke arah kejayaan. Bukan ke arah keterpurukan.

Adalah tugas bersama pemerintah dan masyarakat untuk membina dan memberdayakan pemuda sejak saat ini. Tidak hanya melalui lembaga pendidikan formal, tetapi juga lembaga pendidikan non formal. Tidak hanya melalui keluarga, tetapi juga melalui lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dan kepemudaan yang ada. Jangan salahkan pemuda yang tidak siap menghadapi masa depan, jika kita tidak pernah membina dan memberdayakan mereka secara maksimal. Jangan salahkan pemuda jika kelak mereka tidak siap memimpin Bangsa dengan cara yang benar, jika kita tidak memberi contoh yang baik dan mempersiapkan serta memberi kesempatan pada mereka untuk belajar memimpin sejak sekarang. Semoga melalui peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, semangat kebangkitan Bangsa Melayu akan senantiasa terjaga, yaitu semangat membangun negeri dengan cara yang baik dan benar, cara yang santun dan beradab.

_________________
Terima Kasih . . .

Minggu, 08 April 2012

Celoteh untuk "abang" berbaju coklat

Jangan suka mencabut padi
Kalau dicabut hilang buahnya
Jangan suka menyebut budi
Kalau disebut hilang tuahnya . . .


Begitulah nenek moyang bangsa melayu mengajarkan kepada generasi penerus yang sampai dengan sekarang masih bertahta di Bumi Tuhan ini. Budaya, kawan . . budaya! Orang bilang, budaya itu adalah kebiasaan hidup yang mengakar dan dilakukan terus-menerus. Lalu, masihkah kita berbudaya? Tentu saja dengan bangga kita dapat menjawab dengan kata "iya" haHha !! Tetapi apakah budaya yang kita jalani sekarang masih dapat dikatakan sehat? Nah . . itu dia kawan, aku mulai khawatir dengan itu.

Banyak kawan muda di beberapa organisasi kepemudaan yang senang jika mengadakan demonstrasi, ada masalah sikit . . langsung angkat bendera dan turun ke jalan, teriak-teriak tidak karuan. Macam orang yang tak pernah diajar sopan santun saja dimasa kecilnya. hmHmmmm, begitulah Bangsa kita sekarang kawan, entah siapa yang memulai, entah siapa yang mengajarkan. Mana aku tahu !!

Oleh karena itu, tulisan ini coba kurangkai. Semoga dengan petuah nenek moyang bangsa melayu ini, aku dapat memberi warna dalam jejak langkah insan pembaca dalam menjalankan tugas kalifah fill 'ardh yang senantiasa akan kita pertanggungjawabkan bersama suatu ketika nanti.


Tak ada gading yang tak retak...
Laut mana yang tak berombak dan bumi mana yang tak kena hujan ?!?!

Sejarah nasional Indonesia, baik di masa pergerakan perjuangan kemerdekaan, sampai kepada masa reformasi pemerintahan. Menunjukkan bahwa setiap perubahan pasti selalu melibatkan peran pemuda dengan kekuatan moral dan kepribadiannya yang mantap. Kepribadian generasi muda yang mantap dan berbudi pekerti luhur adalah harapan kita semua sebagai anak bangsa. Proses menuju pemantapan kepribadian merupakan upaya bersama semua komponen bangsa, khususnya proses pengembangan karakter dan daya saing pemuda adalah menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah dan masyarakat umumnya.

Sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini sangat banyak Pemuda Indonesia yang telah dibodohi oleh pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan fenomena organisasi kepemudaan yang semakin merosot kualitasnya. Sudah sangat jarang terdengar kawan-kawan muda yang berasal dari kalangan elite intelektual yang mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkesan tidak memihak pada kebutuhan rakyat kecil. Sangat sulit mencari forum-forum diskusi ilmiah dikalangan pemuda yang benar-benar muda, yang membahas permasalahan dan dinamika sosial dilingkungannya. Ironisnya lagi, banyak organisasi kepemudaan yang pengurusnya sudah tidak lagi muda (baca : tua) dan sangat tidak layak mengurusi organisasi kepemudaan.

Entah sengaja ataupun tidak, pemerintah (lembaga eksekutif) selaku pelaksana jalannya pemerintahan di Negara ini seolah tutup mata dan tidak mau ambil tahu tentang permasalahan yang sudah semakin kronis ini. Mestinya pemerintah dapat dengan segera melakukan kontrol yang ketat terhadap segala aktivitas yang mengatas-namakan pemuda atau kegiatan kepemudaan. Alangkah sangat disayangkan jika anggaran belanja untuk Pembinaan Kepemudaan cenderung diselewengkan untuk hal-hal yang tidak penting melalui kegiatan “organisasi kepemudaan abal-abal” yaitu organisasi yang menggunakan kata pemuda sebagai identitas organisasinya, akan tetapi isinya ataupun pengurusnya adalah orang-orang tua yang merasa muda dan tidak sadar diri bahwa ia sudah tidak lagi muda.

Fenomena tersebut semakin parah dan terus bertambah parah, karena ternyata banyak yang mengambil kesempatan dari amanah Undang-Undang Kepemudaan yang telah di syahkan beberapa tahun yang lalu. Banyak kegiatan kepemudaan di programkan oleh pemerintah, tetapi pelaksanaannya malah di monopoli oleh "oknum birokrat kanibal" yang dengan muka tebalnya menyelenggarakan pelatihan atas nama kepemudaan dan hanya menjadikan pemuda sebagai objek bisnis kegiatan meraka. Seharusnya kegiatan kepemudaan yang telah di anggarkan oleh pemerintah tersebut, diamanahkan kepada organisasi kepemudaan sebagai pelaksana kegiatan. Dengan demikian, pemuda yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat belajar dan memahami bagaimana cara seharusnya menjalankan mekanisme penyelenggaraan kegiatan.

Bagaimana mungkin pemuda di Negara ini bisa menjadi lebih maju dan memiliki kualitas handal, jika hal-hal kecil saja tidak pernah di-amanah-kan kepada mereka. Bagaimana mungkin pemuda kita bisa terbiasa berpikir maju, jika langkah meraka selalu di hambat, gerak mereka selalu di kekang oleh orang-orang tua tidak tahu diri yang selalu menganggap dirinya masih muda . . !!?!?

Generasi penerus dalam sebuah Negara harus di perhatikan, perkaderan merupakan salah satu jawaban konkrit dalam memberikan solusi bagi konsistensi masyarakat maju di sebuah Negara. Untuk itu, dibutuhkan individu-individu yang memiliki komitmen kuat dan rumusan pola perkaderan serta dukungan seluruh masyarakat dalam menjalankan serta mewariskan tujuan mulia Negara yang menjadi wadah bernaungnya selama ini. Sehingga kaum muda yang nantinya akan meneruskan estafet kepemimpinan memiliki pemahaman yang sama dalam menyikapi dan memandang tujuan Negara.

Anak yang sedang dalam proses tumbuh kembang tidak bisa di biarkan menjalaninya seorang diri. Ia butuh figur yang bisa menjadi panutan, agar perkembangan dan proses pembentukan jati dirinya tidak melenceng. Namun demikian, bukanlah suatu alasan agar kita tidak memberikan amanah dan tanggungjawab kepada anak (baca : generasi muda) untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Baik itu tanggungjawab dalam ruang lingkup besar maupun kecil.

Ada pepatah lama yang mengatakan "buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya" memang pembenaran akan hal itu sudah berlangsung lama di tengah kehidupan masyarakat kita selama ini. Tetapi kita juga telah lama melupakan hal yang jauh lebih penting dari itu semua. "buah yang tumbuh harus di jaga dan di rawat sejak ia berbentuk putik, diberi pupuk, diberi obat-obatan anti serangga dan di bungkus ketika buah mulai berbentuk. Kemudian ketika buah siap untuk di panen, haruslah di petik dengan cara yang benar. Agar tidak terjadi kerusakan pada buah tersebut dan kemudian buah yang akan tumbuh berikutnya memiliki tempat yang masih cukup baik untuk tumbuh dan berkembang".

Demikian pula halnya dengan pemuda kita sekarang, jika intelektualitas mereka senantiasa dijajah dengan pembodohan, tidak pernah diberi kesempatan berkreativitas, hanya diberi ceramah melalui seminar atau pelatihan di ruang sempit hotel-hotel mewah. Datang, duduk, pura-pura mendengar materi yang diberikan narasumber, sekedar bertanya untuk meningkatkan eksistensi diri yang malah mengarah kepada gangguan jiwa (narsisme), menenggak coffee break dan makan dengan lahap, tidur di kamar sejuk dan mandi dengan air hangat. Ditambah lagi setelah acara berakhir mereka disuguhi uang saku yang banyak.

Pernah suatu ketika, beberapa minggu yang lalu. Saya mengikuti pelatihan kepemudaan yang diselenggarakan oleh "birokrat". Pesertanya saya anggap "super muda" hahHaaaha!! Kenapa demikian? sebab yang hadir bersama saya di ruang pelatihan itu sudah layak saya panggil "om/tante". Karena ada beberapa peserta, yang umurnya lebih tua dari orang tua saya, kawan. (ini yang namanya pemuda?) saya bertanya didalam hati...

Mau jadi apa pemuda di negeri ini kalau terus-menerus seperti ini ??

Oleh karena itu, selayaknya pemerintah dan segenap unsur masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini secara bersama-sama dan bergandengan tangan turut serta melakukan kontrol terhadap kegiatan ataupun aktivitas yang sudah menyeleweng dari semangat kemerdekaan itu sendiri. Bagaimana mungkin kemajuan bagi masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang besar ini akan dapat terwujud, jika ternyata antar sesama rakyatnya masih saja menjalankan praktik penjajahan di berbagai bidang terhadap hajat hidup orang banyak.

Kamis, 08 Desember 2011

Membangun Karakter Pemuda Indonesia

Kondisi masa depan bangsa sangat bergantung pada kondisi kaum muda saat ini. Jika saat ini mereka kurang baik, kemungkinan akan tidak baik pula bangsa ini dimasa depan. Jika kualitas sumber daya manusia pemuda Indonesia lemah, maka di masa depan bangsa Indonesia pun harus siap kalah. Tetapi jika mereka (kaum muda) dapat tumbuh dan berkembang sebagai bibit unggul yang memiliki daya saing tinggi, maka bangsa ini mempunyai harapan untuk memiliki masa depan yang gemilang.

Proses tumbuh kembang menuju masa kanak-kanak memang terasa menyenangkan. Ketika bayi kita di timang, disayang dan dimanja. Hal inilah yang melenakan kesadaran yang baru saja hinggap. Sekejap saja, kita menyadari keberadaan diri kita. Perjalanan hidup yang berbunga-bunga tawa, tanpa beban dan tanpa tanggungan. Dunia anak-anak adalah dunia tawa, serta dunia awal yang begitu membius kita dalam kefanaan yang nyata. Hingga akhirnya, lahirlah kita sebagai si pelupa yang begitu senang tersenyum dan tertawa.

Pembentukan dasar di masa kanak-kanak inilah yang paling berkesan. Kelak, hal itulah yang menjadi identitas kita seumur hidup. Namun sayangnya proses awal tumbuh kembang kadang kala ada yang gagal dan prematur. Atau, pembentukan karakter yang belum sempurna dan hanya menyisakan sampah jiwa yang menyesak, dalam proses determinasi biologi dan sosial yang mengekang jiwa seorang anak. Ketidaknyamanan keluarga, keretakan hubungan kasih sayang, hancurnya cinta dan binasanya penerimaan akan menumpuk menjadi hutang yang tak pernah terbayarkan. Akibatnya, lahirlah calon-calon manusia yang gampang minder, berhati kaku, berwajah sendu dan bermata penuh masalah. hal ini diperparah lagi dengan keadaan lingkungan sosial yang dipenuhi oleh individu-individu hedonis. yaitu individu yang cenderung meniru kebudayaan barat yang liberal, berperilaku buruk dan tidak lagi sesuai dengan budaya bangsa yang santun.

Ketidakberdayaan untuk melunasi “hutang” pembangunan karakter tahap awal menancap dalam pikiran bawah sadar, sehingga menjadikan kita begitu rapuh dalam memilah dan memilih yang baik atau buruk dalam kehidupan pribadi. Kebekuan ini menjelma sebagai tembok besar penghalang bagi pencapaian misi hidup kita. Sungguh, tak ada yang mengesankan. Sehingga kita hanya bertindak sebagai penonton dalam kehidupan.

Begitulah adanya, karena tahap awal dari fase pembentukan karakter sengat menentukan jati diri kita pada tahap berikutnya. Apabila lingkungan keluarga, tetangga sekitar rumah, sekolah dan masyarakat mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang baik maka semuanya itu akan membaur dengan kepribadian kita yang utuh. Sebaliknya, keretakan dalam rumah tangga, tekanan lingkungan sekitar rumah, buruknya kenyamanan lingkungan sekolah dan rusaknya masyarakat sosial. Tentu akan merenggut suatu yang paling berharga dalam diri kita. Bahkan, hal itu akan menimbulkan penodaan terhadap citra diri. Akhirnya jadilah kita sebagai orang yang begitu labil, temperamental, tak berpendirian, rendah diri dan apatis.

Kota Batam, beberapa hari belakangan ini kembali digemparkan oleh berita yang luar biasa dahsyatnya. Bukan lagi mengenai aksi demonstrasi buruh yang menuntut upah kerja, tetapi karena pada hari sabtu (03/12) publik Kota Batam digoncang oleh berita pelajar yang menjadi germo. Kemudian berselang hari, bahkan hanya dalam hitungan jam saja. Minggu (04/12) Publik Kota Batam kembali di hebohkan oleh peristiwa diamankannya enam remaja korban trafficking di penginapan yang terletak dikawasan pelita - Batam, Oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kepulauan Riau. Kasus tersebut tentunya bukan yang pertama, kemungkinan masih banyak kasus serupa yang belum terungkap dan kemungkinan untuk kembali terjadi kasus serupa masih sangat besar jika pola hidup dan keadaan lingkungan di Kota Batam tidak segera di-benahi dengan baik.

Sungguh semua itu terasa sangat menyesakkan, lantas apa yang harus kita lakukan saat ini setelah semuanya terjadi? Tentunya waktu takbisa diputar ulang. Kita hanya bisa mendulang emas di antara kerikil dan pasir kehidupan masa lalu. Yakinlah bahwa proses yang penuh kesulitan hanya membutuhkan penataan yang apik. Bersikaplah wajar selayaknya orang dewasa yang beradab. Percayalah, masih ada waktu untuk memperbaiki diri.

Justru karena itu, pemuda perlu mendapatkan perhatian khusus dalam pembangunan bangsa. Pernyataan bahwa pemuda adalah pemimpin dan harapan masa depan bangsa tidak dapat di biarkan berhenti sebatas retorika saja. Mereka harus digarap dan dipersiapkan sejak saat ini, agar kelak benar-benar mampu tampil sebagai putra-putri pemimin bangsa yang handal dan mampu memenuhi harapan masa depan masyarakat.

Pemberdayaan pemuda perlu dilakukan dengan berbagai cara dan diberbagai sektor pembangunan, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat dan cerdas. Sehingga kelak dapat menjadi tokoh-tokoh masyarakat, pelaku bisnis dan dunia kerja yang berdaya saing tinggi, serta jujur dan mandiri untuk dapat membawa bangsa ke arah kejayaan, bukan ke arah keterpurukan.

Adalah tugas bersama pemerintah dan masyarakat untuk membina dan memberdayakan pemuda sejak saat ini, tidak hanya melalui lembaga pendidikan formal, tetapi juga lembaga pendidikan non formal. Tidak hanya melalui keluarga, tetapi juga melalui lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dan kepemudaan yang ada. Jangan salahkan pemuda yang tidak siap menghadapi masa depan, jika kita tidak pernah membina dan memberdayakan mereka secara maksimal. Jangan salahkan pemuda jika kelak mereka tidak siap memimpin bangsa, karena kita tidak mempersiapkan dan memberi kesempatan pada mereka untuk belajar memimpin sejak sekarang.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2009 tentang kepemudaan, dengan sangat jelas telah mengamanahkan kepada kita semua. Agar dengan segera melakukan perubahan di ranah kehidupan pemuda. Semua pihak harus mengambil peran dengan maksimal, agar tujuan mulia yang tertuang didalam Undang-Undang tersebut dapat tercapai dengan optimal. Akan halnya pemerintah, yang didalam hal ini adalah Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (ditingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota) harus melaksanakan perannya dalam melaksanakan pembangunan kepemudaan. Melaksanakan penyadaran, pemberdayaan, dan pengembangan potensi kepemimpinan, kewirausahaan, serta kepeloporan pemuda dalam segala aspek kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Semoga Pemerintah Daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten/Kota yang selama ini tampak kurang memberikan perhatian terhadap pembinaan dan pembangunan kepemudaan. Akan semakin terbuka mata dan hati para pejabatnya agar dengan segera melakukan perubahan. Karena pembangunan kepemudaan harus dilakukan dengan apik, haruslah dirancang dengan seksama. Bukan berdasarkan program pragmatis yang lahir dari sifat dan perilaku hedonis yang lebih mengedepankan nilai hiburan dari pada bentuk edukasinya.

Semoga di tahun-tahun berikutnya, pejabat pemerintahan di negeri ini lebih senang menghadiri acara dan kegiatan yang bersifat edukasi yang diselenggarakan oleh pemuda. Dari pada menghadiri kegiatan-kegiatan hedonis yang bersifat hura-hura dan bertentangan dengan budaya bangsa melayu yang senantiasa menjaga sopan santun dalam bertutur kata, sopan santun dalam berpakaian, dan sopan santun dalam berperilaku. Karena dengan demikian, pemuda-pemuda yang hadir di acara tersebut akan merasakan kasih sayang yang diberikan oleh pemimpin mereka. Kemudian mereka (baca : pemuda) akan termotifasi untuk hidup seperti pemimpin mereka yang penuh dengan perhatian, mereka lebih bersemangat untuk menuntut ilmu pengetahuan, agar suatu ketika nanti dapat hidup seperti pemimpin mereka.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa lewat jasa pemudalah roda sejarah bangsa ini berputar, di tangan merekalah visi kebangsaan ini terbentuk dan di pundak mereka juga diletakkan tanggung jawab berat memikul persoalan-persoalan kebangsaan. Dalam perspektif demokrasi, gerakan pemuda, terutama yang terhimpun dalam organisasi sosial-kemasyarakatan merupakan pilar dari civil society. Sebagai pilar civil society, kaum muda menjalankan peran-peran positif, terutama dalam konteks perubahan yang tengah berlangsung dalam masyarakat.

Peran pemuda dalam konteks perubahan sosial-politik menjadi semakin penting karena ia mampu memainkan peran-peran positif sesuai dengan kemampuan dan profesionalismenya. Dalam konteks ini, gerakan pemuda yang termanifestasikan dalam gerakan pemuda terpelajar di Indonesia memiliki andil yang cukup besar sebagai aktor perubahan. Di dalam struktur sosial-politik yang tengah berubah, peran pergerakan sangat strategis sebagai aktor penggerak perubahan tersebut.

Sejarah nasional telah membuktikan bahwa pemuda merupakan penggerak roda sejarah yang mampu membawa masyarakat pribumi yang tertindas menuju cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya. Bangsa ini lepas dari cengkeraman kolonial karena jasa kaum muda. Secara signifikan, pemuda akan terus melakukan transformasi konstruktif atas pranata sosial-kemasyarakatan secara luas dalam rangka memajukan kehidupan demokrasi. Catatan sejarah gerakan kepemudaan di Indonesia sudah membuktikannya. Bahkan, para pemuda (gerakan mahasiswa) sangat signifikan dalam mendorong proses perpolitikan di tanah air, penegakan hukum, transparansi dan pertanggungjawaban di semua lini kehidupan. Tugas pemuda adalah memikirkan kepentingan umum demi menjaga agar pranata-pranata yang telah terbentuk tidak menyimpang dari tujuannya. Disitulah arti peran pemuda yang dapat menciptakan mekanisme check and balance.


Oleh : Cris Topan, AMK

Presidium Garuda Muda Indonesia Kepulauan Riau (Alumni Training Of Trainer Pelatihan Pengembangan Karakter Pemuda Indonesia Tingkat Nasional, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Tahun - 2010).

Sabtu, 03 Desember 2011

Pemuda, Pedang Bermata Dua

Apabila di masa pergerakan sebelum kemerdekaan mahasiswa merupakan kaum pencerah yang menuntun rakyat meraih kemerdekaan, namun kini pada kenyataannya menjadi mahasiswa lebih sering dimaknai sebatas sebagai alat mobilisasi vertikal semata. Mereka hanyalah kumpulan individu-individu yang mengejar kepentingannya dan keuntungan sendiri. Seperti, mereka belajar sekedar sebagai modal untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan memperoleh pendapatan yang lebih baik, karena itu akan berkorelasi dengan kenyamanan hidup yang akan mereka dapatkan nantinya. Tanpa mau peduli dengan keadaan sosial di sekitar mereka.

Fenomena deregenerasi ini disebabkan oleh generasi muda saat ini gagal menangkap semangat zamannya. Dampaknya sebagian besar generasi muda alpa akan tugas peradabannya, yaitu mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat dan terciptanya peradaban Indonesia yang unggul. Akibatnya, peradaban kehabisan energi untuk bertahan hidup dan perlahan bergerak menuju jurang kehancurannya sendiri. Karena generasi muda pewaris peradaban telah gagal melakukan dinamisasi kehidupan berupa pembaharuan dan perubahan sosial didalam dirinya sendiri.

Hal ini disebabkan oleh generasi muda yang tidak memiliki kreatifitas dan inovasi melakukan rekayasa since-teknologi maupun rekayasa sosial yang nantinya akan melahirkan pembaharuan dan perubahan sosial yang sangat dibutuhkan peradaban untuk merefresh atau mendaur ulang kehidupannya. Mereka telah kehilangan inisiatif untuk melakukan perubahan karena tidak tahu harus berbuat apa dan memulai dari mana.

Kondisi-kondisi memperihatinkan seperti kemiskinan, korupsi yang menjangkiti semua level dan lini kehidupan masyarakat, belum lagi ditambah dengan bagaimana kedaulatan bangsa kita terinjak-injak karena bangsa lain tahu bahwa bangsa kita adalah bangsa yang lemah, kemudian konspirasi kartel ekonomi dunia yang dapat dengan mudah mengeksplorasi kekayaan alam bangsa kita tanpa memberikan keuntungan nyata untuk bangsa kita.

Hal ini merupakan akibat dari kaum terpelajar dan elite intelektual yang ada saat ini tidak memiliki pemaknaan yang cukup terhadap empat pilar kebangsaan. Yaitu, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika. Sehingga mereka tidak mengenal jati diri bangsanya dalam pemaknaan yang sebenarnya. Hasilnya, cara penyelesaian masalah mereka adalah “not out of the box thinking but out of the context thinking” sehingga selalu gagal mendekati sumber masalahnya. Hal ini di perburuk lagi oleh ketiadaan mental pengabdian untuk bangsa, dan cita-cita mereka sebatas hanya mengejar kenyamanan hidup mereka sendiri.

Bahkan konyolnya ada idiom di Indonesia, bahwa semakin pintar seseorang maka akan semakin mudah untuk menipu orang bodoh (baca : rakyat kecil) dengan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari ketidak berdayaan mereka. Hal ini merupakan contoh klise model penjajahan dan penindasan antara sesama anak bangsa yang menjadi penyakit kronis peradaban Indonesia sejak lampau.

Saya ingin berbagi sebuah cerita tentang secangkir minuman yang hangat dan nikmat, cerita ini saya peroleh dari salah seorang Dewan Pembina Mahasiswa Riau ketika mengikuti Musyawarah Nasional Forum Komunikasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Riau Se-Indonesia di kawasan Puncak (Jawa Barat) bulan Desember 2010 lalu, begini ceritanya :

Lembaga pendidikan (perguruan tinggi) itu dapat kita ibaratkan seperti cawan batu yang indah, sebuah maha karya yang telah diperhitungkan secara sempurna dalam proses pembuatannya. Tujuan pembuatan cawan batu tersebut bukan hanya sekedar sebagai tempat minum bagi orang-orang yang memilikinya nanti. Tetapi lebih dari pada itu, cawan batu yang dibuat oleh pengrajinnya dapat dinikmati bersama-sama oleh pemilik dan tamu yang mengunjunginya sebagai tempat dihidangkannya minuman hangat yang nikmat.

Kemudian dalam proses pembuatan minumannya dibutuhkan sendok yang dalam hal ini kita ibaratkan sebagai sosok seorang dosen di perguruan tinggi. Untuk membuat minuman hangat dan nikmat itu, maka sendok berperan sebagai pemersatu larutan. Ia berputar, berayun dengan teratur. Walau di tengah-tengah air panas yang mendidih, sendok tetap tidak protes karenanya. Demikian juga cawan batu, meski dituangkan air panas kedalamnya untuk melarutkan ramuan minuman yang dibuat. Ia tetap berdiri tegak dan kokoh di tempatnya, tidak bergerak ataupun bergeser sedikitpun karenanya.

Cawan batu, sendok dan ramuan minuman yang dibuat selalu bertugas dan menyadari fungsinya masing-masing, bahwa air panas yang dituangkan bukanlah untuk menyakiti. Tetapi jauh lebih mulia fungsinya, sebagai pelarut dan penyempurna campuran ramuan minuman nikmat yang diinginkan. Tidak ada yang boleh ikut campur, kecuali memang harus dicampurkan. Harus tahu diri dan berfungsi sebagaimana kegunaan yang sebenarnya.


Dari cerita diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa lembaga pendidikan (perguruan tinggi) yang baik tentunya harus menerima dengan ikhlas aktivitas mahasiswanya, bahkan mendukung secara optimal terhadap kegiatan yang dapat menunjang peningkatan kualitas sumber daya manusia mahasiswanya. Seperti cawan batu yang dengan ikhlas menerima siraman air panas untuk membuat minuman di atas, perguruan tinggi harus bisa menempatkan diri sebagai mana mestinya. Harus berani menerima kritik, masukan dan saran dari manapun agar kualitasnya dapat ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. Kemudian dosen yang baik tentunya harus dapat membimbing, mengarahkan dan memberi contoh yang baik agar dapat ditiru oleh mahasiswanya. Bukannya menghalang-halangi mahasiswa untuk melakukan aktivitas sosial dilingkungan kampus ataupun dilingkungan tempat tinggal mahasiswanya.

Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita semua untuk saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Agar kawan-kawan dan rekan kita yang sedang terbuai dalam kenikmatan sifat lupanya kembali segera tersadar bahwa ia sedang berada dalam keadaan yang kurang benar dan harus segera kembali kepada jalan yang benar.

Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang direbut dengan darah pejuang tentu harus di isi dengan pembangunan segenap lapisan masyarakat, termasuk pemuda. Agar bangsa Indonesia dapat tumbuh sebagai bangsa yang kuat serta mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di kancah pergaulan internasional agar tidak kembali terjajah. Mendiang mantan Presiden Indonesia (Bung Karno) pernah berpesan, bahwa penjajahan akan terus ada di muka bumi dalam berbagai bentuk imperialisme baru. Mulai dari imperialisme ekonomi hingga imperialisme politik dan budaya. Bangsa yang kuat akan cenderung menjajah yang lemah dan negara yang lemah akan cenderung takluk dalam genggaman negara adikuasa.

Menghadapi berbagai bentuk imperialisme baru, memandirikan bangsa agar tetap dapat terus berdiri sama tegak dan sama tinggi (sederajat) dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Itulah bentuk perjuangan nyata di era kemerdekaan, bukan dengan senjata tetapi dengan keunggulan dan kemampuan bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Karena kehidupan dan kematian terus berlalu, yang kini hidup kelak akan mati dan di gantikan oleh yang kini muda. Maka perjuangan itu mesti diteruskan dalam estafet yang tiada henti. Jelas, bahwa bakal penerus estafet perjuangan bangsa itu adalah generasi muda.

Pemuda adalah harapan masa depan bangsa, kata-kata tersebut tentunya bukan sekedar retorika untuk melebih-lebihkan peran pemuda. Sebab di tangan pemudalah masa depan bangsa berada. Ketika para pemegang tampuk pemerintahan kelak pensiun, ketika para eksekutif dan professional kelak uzur, ketika para entrepreneur kelak menjadi tua, ketika para pemuka adat sudah tidak lagi sanggup mengingat perjalanan sejarah dan ketika guru sudah tidak sanggup lagi melihat huruf-huruf yang terangkai di dalam sebuah buku. Maka para pemudalah yang nantinya akan menggantikan mereka. “kami tidak lagi bisa berkata kaulah sekarang yang berkata. Teruskan, teruskan jiwa kami” kata Chairil Anwar.

Kondisi masa depan bangsa sangat bergantung pada kondisi kaum muda saat ini. Jika saat ini mereka kurang baik, kemungkinan akan tidak baik pula bangsa ini dimasa depan. Jika kualitas sumber daya manusia pemuda Indonesia lemah, maka di masa depan bangsa Indonesia pun harus siap kalah. Tetapi jika mereka (kaum muda) dapat tumbuh dan berkembang sebagai bibit unggul yang memiliki daya saing tinggi, maka bangsa ini mempunyai harapan untuk memiliki masa depan yang gemilang.

Justru karena itu, pemuda perlu mendapatkan perhatian khusus dalam pembangunan bangsa. Pernyataan bahwa pemuda adalah pemimpin dan harapan masa depan bangsa tidak dapat di biarkan berhenti sebatas retorika saja. Mereka harus digarap dan dipersiapkan sejak saat ini, agar kelak benar-benar mampu tampil sebagai putra-putri pemimin bangsa yang handal dan mampu memenuhi harapan masa depan masyarakat.

Pemberdayaan pemuda perlu dilakukan dengan berbagai cara dan di berbagai sektor pembangunan, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat dan cerdas. Sehingga kelak dapat menjadi tokoh-tokoh masyarakat, pelaku bisnis dan dunia kerja yang berdaya saing tinggi, serta jujur dan mandiri untuk dapat membawa bangsa ke arah kejayaan bukan ke arah keterpurukan.

Adalah tugas bersama pemerintah dan masyarakat untuk membina dan memberdayakan pemuda sejak saat ini. Tidak hanya melalui lembaga pendidikan formal, tetapi juga lembaga pendidikan non formal. Tidak hanya melalui keluarga, tetapi juga melalui lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dan kepemudaan yang ada. Jangan salahkan pemuda yang tidak siap menghadapi masa depan, jika kita tidak pernah membina dan memberdayakan mereka secara maksimal. Jangan salahkan pemuda jika kelak mereka tidak siap memimpin bangsa, karena kita tidak mempersiapkan dan memberi kesempatan pada mereka untuk belajar memimpin sejak sekarang.

Lewat jasa pemudalah roda sejarah bangsa ini berputar, di tangan merekalah visi kebangsaan ini terbentuk dan di pundak mereka juga diletakkan tanggung jawab berat memikul persoalan-persoalan kebangsaan. Dalam perspektif demokrasi, gerakan pemuda, terutama yang terhimpun dalam organisasi sosial-kemasyarakatan merupakan pilar dari civil society. Sebagai pilar civil society, kaum muda menjalankan peran-peran positif, terutama dalam konteks perubahan yang tengah berlangsung dalam masyarakat.

Peran pemuda dalam konteks perubahan sosial-politik menjadi semakin penting karena ia mampu memainkan peran-peran positif sesuai dengan kemampuan dan profesionalismenya. Dalam konteks ini, gerakan pemuda yang termanifestasikan dalam gerakan pemuda terpelajar di Indonesia memiliki andil yang cukup besar sebagai aktor perubahan. Di dalam struktur sosial-politik yang tengah berubah, peran pergerakan sangat strategis sebagai aktor penggerak perubahan tersebut.

Sejarah nasional telah membuktikan bahwa pemuda merupakan penggerak roda sejarah yang mampu membawa masyarakat pribumi yang tertindas menuju cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya. Bangsa ini lepas dari cengkeraman kolonial karena jasa kaum muda. Secara signifikan, pemuda akan terus melakukan transformasi konstruktif atas pranata sosial-kemasyarakatan secara luas dalam rangka memajukan kehidupan demokrasi. Catatan sejarah gerakan kepemudaan di Indonesia sudah membuktikannya. Bahkan, para pemuda (gerakan mahasiswa) sangat signifikan dalam mendorong proses perpolitikan di tanah air, penegakan hukum, transparansi dan pertanggungjawaban di semua lini kehidupan. Tugas pemuda adalah memikirkan kepentingan umum demi menjaga agar pranata-pranata yang telah terbentuk tidak menyimpang dari tujuannya. Disitulah arti peran pemuda yang dapat menciptakan mekanisme check and balance.

Dalam konteks perubahan sosial, gerakan pemuda terpelajar merupakan bagian dari aktor perubahan itu sendiri sebagai agent of change. Sebagai generasi inelektual-intelegensia atau intelektual berbasis kemampuan akademik, pemuda terpelajar diharapkan mampu menjalankan peran-peran strategis dalam konteks perubahan sosial di Indonesia. Dengan wawasan dan keahlian berbasis akademik, pemuda terpelajar juga diharapkan mampu menjadi calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Kaum intelektual-intelegensia adalah mereka yang mampu memberikan kontribusi terhadap proses pembangunan, transmisi dan kritik gagasan.

Peran pemuda sangat penting sebagai aktor perubahan secara horizontal, komitmen kebangsaan pemuda yang tercetuskan lewan sumpah pemuda harus tetap menjadi spirit gerakan kepemudaan, di mana pun dan kapan pun mereka berjuang. Dalam konteks menjaga komitmen kebangsaan yang diimplementasikan dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan di Indonesia, pemuda harus peka membaca potensi-potensi konflik yang dipicu akibat perbedaan latar belakang budaya di Indonesia.

Komitmen “Mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia” yang dituangkan dalam Sumpah Pemuda harus di pahami dengan pembacaan yang kritis terhadap latar belakang persatuan bangsa Indonesia yang beragam etnis, budaya dan agama. Jika pemuda hendak menempatkan diri sebagai aktor perubahan sosial, maka ia harus memiliki wawasan kebangsaan multikultural. Jika tidak, maka perubahan sosial yang dimotori kaum muda akan menuai kendala yang cukup berarti. Konflik antar kelompok dengan latar belakang etnis, budaya dan agama bisa memicu disintegrasi bangsa.

Dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia yang mulikultural, ketika masing-masing tidak bisa saling memahami, sudah barang tentu akan memicu konflik yang akan mengundang masalah bagi masa depan kemanusiaan. Konflik yang pada mulanya berawal dari perbedaan prinsip dan kepentingan antar manusia justru paling sering berbuah bencana kemanusiaan.

Tidak jarang konflik-konflik yang terjadi berbuah kerusuhan dan bahkan pembunuhan. Fakta inilah yang menjadi alasan pokok, jika perbedaan dalam konteks masyarakat multikultural tidak bisa disikapi secara bijaksana, justru akan melahirkan bencana bagi kemanusiaan.

Atas dasar inilah, generasi muda yang berperan sebagai aktor perubahan sosial harus memiliki wawasan kebangsaan multikultural. Ketika pemerintah tidak mampu mengontrol masyarakat, pemuda memainkan peranannya sebagai kontrol sosial yang efektif. Oleh karena itu, sudah sepantasnya wawasan kebangsaan multikultural menjadi agenda besar bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan konsep kehidupan yang berkeadilan dan demokratis.

Sebagai aktor perubahan sosial, kaum muda Indonesia diharapkan tetap mampu menjalankan fungsi check and balance. Sebab, pemerintah tidak selamanya dapat bertindak adil, terutama dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan strategis yang sangat dibutuhkan masyarakat. Padahal, masyarakat Indonesia merupakan manifestasi dari berbagai macam latar belakang etnis, budaya dan agama.