Jumat, 15 Agustus 2014

Mengembangkan Potensi Ekonomi Kerakyatan Melalui Kegiatan Koperasi Pemuda

Kemiskinan yang dialami umat manusia di dunia, karena mereka tidak memiliki kemampuan memperoleh penghasilan yang layak untuk memenuhi kebutuhan minimum. Ketidakmampuan ini bersumber dari kurangnya pengetahuan dan pendidikan, sehingga peluang mendapatkan pekerjaan yang layak sangat kecil. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar kondisi ekonominya berada di sekitar garis kemiskinan sangat rentan apabila terjadi kegoncangan ekonomi, maka merekalah yang paling cepat berubah dari posisi pas-pasan menjadi miskin. Jumlah masyarakat dalam kondisi seperti ini di Indonesia, hingga bulan maret 2014 adalah sebesar 28,28 juta orang (sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia).

Lalu muncul pertanyaan penting, pendidikan seperti apa yang dibutuhkan masyarakat menengah ke bawah ini, kenapa sampai dengan hari ini, setelah 69 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merdeka, dengan kekayaan sumber daya alam, suburnya tanah air kita dan letak geografis Negara kita yang strategis untuk perdagangan internasional, rakyat di Negara kita ini masih saja banyak yang belum hidup makmur? Ada apa ini? Apakah pendidikan ilmu ekonomi yang dipelajari di sekolah, atau cara berdagang yang diturunkan nenek moyang, atau meniru pengalaman suku keturunan seperti China, India dan Arab masih belum cukup? Kita bisa lihat lah, siapa dan dari latar belakang yang seperti apa orang yang sukses berbisnis di Indonesia.

Pendidikan formal masyarakat kita mungkin tidak terlalu beda jauh dengan pendidikan formal suku keturunan, namun boleh jadi budaya dan prilaku berbisnis masyarakat asli yang masih kurang berorientasi pada upaya penggerakan ekonomi yang lebih maju dan tangguh, agar dapat bersaing dengan kelompok lainnya. Hal ini dibuktikan bahwa lembaga keuangan di Indonesia lebih mudah memberikan kredit kepada masyarakat keturunan dibandingkan dengan masyarakat asli. Fakta membuktikan bahwa hampir semua jalan protokol atau wilayah strategis untuk berbisnis di kota-kota besar di Indonesia sudah dikuasai masyarakat keturunan, sedang masyarakat asli semakin tergusur ke pinggiran kota.

Kondisi seperti  ini akan berlanjut terus menerus jika tidak ada usaha penalaran bagi masyarakat tentang prilaku dan kebiasaan dalam hal memperoleh uang dan bagaimana menggunakannya secara bijaksana dan bertanggungjawab. Atas pertimbangan inilah maka kami berpikir bahwa pelatihan koperasi memang diperlukan untuk mentransformasikan konsep sosial ekonomi dikehidupan masyarakat kita.

Kita ketahui bersama, bahwa koperasi memiliki jati diri yang dikeluarkan ICA (International Cooperative Alliance) pada tahun 1995 di Manchaster United Kingdom (Inggris), yang terdiri dari tiga bagian penting, yaitu Devinisi Koperasi, Nilai-nilai Koperasi dan Prinsip-prinsip Koperasi. Upaya sosialisasi dan pendidikan tentang koperasi ini memang mutlak dilaksanakan di Negara kita. Ada beberapa alasan penting dan strategis yang mendasarinya, yaitu bahwa lewat pendidikan atau pelatihan dan informasi tentang koperasi, kita dapat mengetahui filosofi Koperasi, mengetahui hak dan kewajiban serta mengetahui manfaat yang diterima dari koperasi. Dengan pendidikan atau pelatihan, kita dapat merubah mindset bagaimana cara bekerja untuk memperoleh penghasilan yang layak dalam usaha memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Dengan pendidikan atau pelatihan dan informasi tentang koperasi, kita dapat menggunakan uang dari penghasilan secara bijaksana dan bertanggungjawab, sehingga mereka yang sudah mendapatkan informasi tentang koperasi ini dapat memahami dan melaksanakan Anggaran Belanja Keluarga (ABK) koperasi. Dengan pendidkan atau pelatihan dan informasi, pengurus, pengawas, serta staf koperasi nantinya dapat memahami pengelolaan keuangan koperasi secara prudent accountable dan responsible serta trasparan kepada anggota dan masyarakat. Dengan pendidikan atau pelatihan dan informasi tentang koperasi, pengurus koperasi dapat mengawasi secara sistematis dan akurat sehingga menghindari praktik-praktik penyalahgunaan kekuasaan, dan atau penyalahgunaan keuangan yang menyebabkan koperasi bermasalah sampai bangkrut. Dengan pendidikan atau pelatihan dan informasi koperasi, pengurus dapat mengembangkan koperasi berskala besar sehingga meningkatkan market share serta meningkatkan volume usaha untuk meningkatkan pendapatan. Dengan pendidikan atau pelatihan dan informasi, koperasi dapat menjamin regenerasi kepengurusan dan pelaksana, serta keberlangsungan koperasi itu sendiri. Sehingga dapat diteruskan oleh generasi yang akan datang dengan lancar.

Dengan alasan tersebut, maka pendidikan, pelatihan dan informasi tengang koperasi yang merupakan basis ekonomi kerakyatan, tentu bukan merupakan beban bagi pemerintah di Indonesia, melainkan suatu kebutuhan yang harus dijalankan. Setiap lembaga ekonomi dan kelompok sosial dapat berpartisipasi aktif dalam menggerakkan sistem ekonomi kerakyatan yang bernama koperasi ini. Koperasi-koperasi seperti ini lah yang diharapkan oleh pendiri bangsa kita, yaitu DR Mohamad Hatta untuk menciptakan sosial ekonomi yang berdaulat dan berkeadilan menuju masyarakat adil dan makmur.

Salah satu jawaban untuk meningkatkan keberdayaan Gerakan Koperasi adalah melalui Pendidikan dan Pelatihan Perkoperasian  yang terus menerus dilakukan secara berkesinambungan dan sistimatis. Sebagaimana diuraikan diatas, sangat perlu kiranya agar kita terus menggesa upaya ini, terutama upaya pengenalan dan pembelajaran tentang koperasi kepada generasi muda di lingkungan kita. Dengan memberikan pendidikan dan pelatihan tentang perkoperasian kepada pemuda, maka pengetahuan tentang pengelolaan ekonomi berbasis kerakyatan dapat terus menerus dijaga dengan baik. Kemudian diharapkan agar pengetahuan ini dapat diturunkan terus kepada generasi selanjutnya sebagai modal hidup yang baik dan bermanfaat. Dengan demikian, diharapkan agar pemuda mampu mengambil peluang strategis untuk mengelola potensi lokal yang ada, melalui koperasi.

Untuk itu maka peranan organisasi kepemudaan sebagai wadah berkumpulnya pemuda, harus berupaya hadir guna mengakomodir kebutuhan pemuda kekinian. Demikian pula halnya dengan unsur pemerintahan dan lembaga pendidikan, yang terkait dengan kegiatan perekonomian, khususnya kegiatan perkoperasian. Gerakan Koperasi Pemuda harus diupayakan oleh seluruh unsur, agar lebih cepat berkembang menjadi pondasi gerakan ekonomi baru, yang dipadu-padankan dengan pengetahuan yang sudah ada sejak lama.

Tentunya gagasan ini kami harapkan dapat menjadi langkah awal, yang dapat memberikan gambaran wacana dan inspirasi baru, agar kelompok-kelompok pemuda dapat lebih mengerti potensi diri dan lingkungan sekitarnya, sehingga bisa mengambil peran lebih, dalam rangka mengelola sumber daya alam dan memanfaatkan letak strategis daerah tempat tinggalnya hari ini melalui kegiatan usaha koperasi yang merupakan basis ekonomi kerakyatan.

__________
Terima Kasih . . .

Sabtu, 19 Juli 2014

Mental Pemulung Orang-Orang Terdidik

Jalan Garuda #36
Tombak pusaka, senjata pamungkas seorang ksatria, hanya akan menjadi alat pengais sampah di tangan seorang pemulung . . .

Kembali berpikir lebih dalam tentang amanah pengetahuan, dan kesempatan mengemban jabatan di lingkungan sosial, di antara kita. Mungkin catatan di atas, yang saya buat untuk mengawali tulisan ini, agak sedikit menggelitik minat berpikir saudara. Mari kita telaah lebih jauh, semampu saya berpikir tentunya.

Tombak merupakan senjata yang identik dengan perlengkapan perang, dahulu, sebelum kita mengenal senjata canggih seperti sekarang ini. Selain pedang, pisau, badik, dan panah, tombak kerap digunakan pada perang tradisional. Sekarang ini, tombak mungkin hanya dipakai untuk berburu babi hutan dan pada perlombaan olahraga saja.

Lalu apa hubungannya antara tombak dengan pemulung?
Apakah pemulung menggunakan tombak untuk bekerja?

Tentu saja pemulung tidak menggunakan tombak untuk bekerja, bisa ditangkap petugas keamanan lingkungan kalau ada pemulung yang membawa tombak kemana-mana. Hahhaha!! Tapi dalam hal ini, kita tidak sedang menggiring opini ke arah tersebut. Saya hanya membuat sebuah kemungkinan, andai seorang pemulung menemukan sebuah tombak di tempat sampah. Tentu tombak tersebut tidak akan dipergunakan untuk berperang, atau berburu babi, sebab babi hanya ada di kampung yang hutannya masih lebat, tidak mungkin ada pemulung di kampung-kampung seperti itu. Negara kita pun masih aman, tidak ada perang.

Pemulung pun tidak akan mungkin ikut di perlombaan olahraga cabang lempar lembing, apa mungkin ada kesempatan seperti itu? Kecil kemungkinannya. Nah, karena itu, tentu tombak yang didapatkannya bisa jadi akan dipatahkan matanya, diambil kayu gagangnya, kemudian dijadikan tongkat pengais sampah. Besar kemungkinan akan dipergunakan untuk hal itu.

Demikian pula halnya dengan amanah ilmu pengetahuan dan kesempatan mengemban jabatan, yang diperoleh oleh seorang individu bermental pemulung. Besar kemungkinan ilmu pengetahuan dan jabatan yang dimilikinya tidak akan bermanfaat lebih, hanya dipergunakan untuk kepentingan perutnya saja, sekedar untuk membanggakan diri. Tidak untuk manfaat lebih besar yang berdampak baik, bagi orang banyak.

Biasanya, individu-individu seperti itu (baca : bermental pemulung), tidak mampu berpikir kreatif, tidak punya visi dan gagasan besar, tidak visioner. Mereka senang menunggu, menanti kesempatan baik datang menghampiri, tidak berani berbuat. Padahal sebagai individu yang memiliki ilmu pengetahuan baik, apalagi yang telah mendapatkan amanah jabatan, mestinya lebih banyak berpikir, lebih gigih bergerak, lebih berani berbuat untuk kebaikan diri, keluarga dan orang banyak di sekelilingnya, yang dengan kesungguhan hati dan harapan besar, menitipkan amanah kepadanya.

Catatan ini saya tuliskan bukan untuk menghujat anda, yang berkenan membaca. Tidak, bukan seperti itu kawan. Saya hanya sekedar mengingatkan diri ini, dan mungkin anda yang berkenan menjadikan tulisan saya ini sebagai bahan introspeksi diri, seperti yang saya lakukan sekarang ini. Berpikir, kembali mengingat, apakah diri ini yang telah memiliki ilmu pengetahuan dan diberi amanah jabatan, sudah berpikir, bergerak, berbuat sesuai dengan yang semestinya. Atau masih berlaku seperti seorang pemulung sampah!?!!

Mohon maaf jika sekiranya tidak berkenan . . .
Terima kasih telah berkenan membaca

Senin, 05 Agustus 2013

Negeriku Kini

Bismillahirrahmaanirrahiim
Dari sudut kelabu ruang karantina kurangkai asa
Hatiku gundah
Sebab negeriku kumuh, busuk !!
Bukan, bukan kumuh karena sampah
Bukan pula busuk karena kotoran
Tapi . . .
Negeriku kini dipenuhi kemunafikan
Negeri melayu ini, kotor karena kebohongan
Pemimpin negeri lupa amanah
Generasi pengganti kehilangan arah
Adat istiadat tak lagi diperdulikan
Petuah orangtua dianggap candaan
Teman berbuat baik ditertawakan
Berbuat buruk menjadi kebanggaan
Katanya . . .
Tidak merokok tak gaul
Tidak dugem enggak asik
Topi miring, jack daniel dan chivass
Dijadikan pengganti dzikir
Sementara ekstasi, sabu dan cimeng
Seakan cemilan . . .
Bangga?
Kau bangga?!??
Mestinya waktu yang singkat ini tidak kau sia-siakan
Tidak perlu lah kita merusak diri, ukir prestasi
Itu yang dibutuhkan

Nilam suri
Sebelas hari bulan juni
Tahun dua ribu tiga belas

Dibacakan pada Pagelaran Seni Kampus se Kepulauan Riau, BNNP KEPRI, di Mega Mall Batam Centre, Minggu, 15/6/2013

Selasa, 20 November 2012

Pahlawan-Pahlawan Siang

Aku diterpa badai yang menggila
Gelombang besar setinggi gunung meluluh-lantakkan biduk kertasku
Tiada tempat berlindung, tak kutahu tempat mengadu
Hanya keyakinan yang masih tersisa
sebab, perbekalanku pun telah tiada
Hanyut, tercampakkan . . .

Kabar burung yang kudengar
Katanya, didaratan sana, banyak yang berteriak, bersuara!
Jangan apatis, jangan jadi pengecut!
Jangan abaikan saudara kita yang dilanda bencana!
Mari kita bantu dia yang dilanda badai
Mari kita tolong bersama-sama

Benarkah? Benarkah itu, kawan?
Tapi mana?! Kenapa mereka tak kunjung tiba?